Tidak Memenuhi Syarat, 3.894 Pemilih Tereliminasi

24

NGAWI – Sebanyak 3.894 pemilih di Ngawi harus tereliminasi dari daftar pemilih tetap hasil perbaikan ketiga (DPTHP-3). Pencoretan itu dilakukan KPU setempat dengan alasan tidak memenuhi syarat (TMS) sebagai pemilih dalam pemilu 17 April mendatang. ‘’Sesuai rekomendasi dari pihak bawaslu, yang tidak memenuhi syarat kami coret,’’ kata Ketua KPU Ngawi Syamsul Wathoni, usai memimpin rapat pleno DPTHP-3 di kantornya, kemarin (2/4).

Toni -sapaan Syamsul Wathoni- menjelaskan, penyebab ribuan pemilih itu dinyatakan TMS beragam. Mulai karena telah meninggal dunia, pindah domisili, hingga beralih status menjadi anggota TNI/Polri. Namun, dia memastikan pencoretan itu tidak mengubah jumlah pemilih yang tercatat dalam DPTHP-3. ‘’Jumlahnya masih sama,’’ tegasnya.

Berdasarkan data KPU setempat, jumlah pemilih dalam DPTHP-3 sebanyak 705.092. Sedangkan yang dinyatakan TMS 3.894. Mereka tersebar di 209 desa dan 1.584 tempat pemungutan suara (TPS). Meski tidak memengaruhi angka dalam DPTHP-3 itu, Toni berharap tidak ada lagi penetapan DPTHP-4 dan seterusnya. ‘’Kalau datanya pasti terus bergerak, tapi kami harap ini pleno terakhir soal DPT,’’ ujarnya.

Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga (PHL) Bawaslu Ngawi Budi Sunariyanto menuturkan bahwa pihaknya merekomendasikan untuk dilakukan penyempurnaan DPTHP-2. Rekomendasi itu mengacu keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor: 20/PUU-XVII/2019. ‘’Istilahnya bukan diperbaiki, tapi disempurnakan,’’ ungkapnya sembari menyebut kemarin merupakan batas akhir rapat pleno DPTHP-3.

Budi menyebut, ada dua hal yang direkomendasikan bawaslu dalam rapat pleno itu. Pertama, mengenai adanya daftar pemilih khusus (DPK) yang terkonsentrasi sehingga surat suaranya di sebuah TPS tertentu tidak dapat terpenuhi. Misalnya, jumlah pemilih dalam satu TPS maksimal 300. Padahal, pada TPS tersebut terdapat 302 pemilih. Sisa dua pemilih itu akan masuk dalam DPK. ‘’Nah, kami merekomendasikan untuk DPK yang sudah memenuhi syarat ini untuk dimasukkan dalam DPT,’’ katanya.

Rekomendasi lainnya, lanjut dia, adanya pemilih TMS maupun perbaikan data pemilih. Pihaknya merekomendasikan pemilih yang dinyatakan TMS itu hanya dicoret. Tidak dihapus dari DPTHP-2 yang sebelumnya sudah diplenokan. Begitu juga yang mengalami perbaikan data, hanya perlu ditandai. ‘’Selanjutnya juga begitu, karena data ini kan terus bergerak, jadi hanya perlu dicoret saja,’’ ujarnya. (tif/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here