Tiada Angkutan, Pelajar Motoran

20
TAK MERATA: Sejumlah pelajar SMPN di Pacitan yang masih memanfaatkan angkutan umum untuk bersekolah.

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Jumlah angkutan umum di Pacitan minim. Sedikitnya ketersediaan moda transportasi itu disebut-sebut salah satu faktor pelajar nekat mengendarai sepeda motor. Kendati paham kecukupan usia 17 tahun sebagai syarat mutlak mengantongi surat izin mengemudi (SIM) C. ‘’Terpaksa motoran karena tidak ada angkutan umum,’’ kata Nadia Melisa Putri, salah seorang pelajar SMPN di Pacitan, Jumat (9/8).

Nadia tinggal di Desa Dadapan, Pringkuku. Ruas jalan menuju sekolahnya tidak dilewati angkutan umum. Tidak ada pilihan selain mengendarai motor karena jarak sekolahnya cukup jauh. ‘’Naik motor saja perjalanannya 20 menit,’’ ujarnya.

Bambang Irawan, pelajar lainnya, menambahkan, orang tua tidak punya waktu untuk antar jemput. Meski tempatnya menuntut ilmu melarang dan tidak memfasilitasi tempat parkir. Remaja asal Desa Tamperan, Sidoharjo, ini tetap nekat mengendarai motor. ‘’Motor bisa dititipkan tempat parkir di luar kompleks sekolah,’’ katanya.

Kabid Lalu Lintas dan Angkutan Umum Dinas Perhubungan (Dishub) Pacitan Priyadi membenarkan minimnya jumlah angkutan umum. Tersisa 269 armada yang aktif beroperasi dari data awal 1.009 armada. Sedangkan 740 armada angkutan umum tidak beroperasi alias mati. ‘’Hasil pendataan tahun lalu,’’ katanya.

Priyadi menyebut, salah satu penyebab armada mati karena keberadaan kendaraan pribadi. Terutama sepeda motor yang jumlahnya diperkirakan lebih 170 ribu unit. Kondisi itu membuat pemilik angkutan umum gulung tikar. Menyikapi fenomena pelajar mengendarai motor, program bus sekolah telah disiapkan. Memanfaatkan satu unit bus hibah Kementerian Perhubungan awal tahun ini. Namun, bus itu hanya mampu mengakomodasi Kecamatan Pacitan. ‘’Saat ini masih persyaratan administrasi. Target beroperasi awal tahun depan,’’ ujarnya. (den/c1/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here