Tetangga Pelaku Perampokan Toko Emas Mendengar Tujuh Ledakan Keras

112

KUAT dugaan Yunus Trianto melakukan uji coba perakitan bom di rumahnya di Desa Sukolilo, Jiwan, Madiun. Sebab, di lokasi kedua pemeriksaan itu, Tim Densus 88 menemukan berbagai barang bukti berupa panah, tombak, senjata laras panjang, kabel rakitan, serta puluhan keping CD.

Bahkan, tetangga telah lama mencurigai aktivitas Yunus yang tinggal bersama istrinya di rumahnya. Apalagi, Heri Sudarto, 52, tetangga samping rumah, sering mendengar ledakan seperti bunyi petasan dari rumah Yunus. Dia menghitung total ada tujuh kali bunyi ledakan terdengar dari rumah Yunus. ‘’Tujuh kali ada, saya sampai kaget. Selang berhari-hari begitu,’’ kata Heri.

Meski penasaran dengan bunyi gelegar itu, namun Heri enggan menengok ke rumah Yunus. Sebab, dia pernah mendapatkan pengalaman pahit dengan tetangganya itu. Beberapa tahun sebelum Yunus menusuk Muhtarom, mantan bupati Madiun pada 2009 lalu, Edi pernah menjadi korban hantaman senjata tajam Yunus. ‘’Ini bekasnya masih. Tahun berapa saya kurang ingat,’’ lanjutnya sembari memperlihatkan bekas luka di sekitar tulang rusuk sebelah kanan.

Heri menceritakan, peristiwa itu berawal saat dia pulang dari sawah. Ketika itu dia terkejut mendapati Supi, mertua Yunus, diinjak dan dilempari sepeda. Dia bergegas mendekat bermaksud hendak melerai. Nahas, dia yang tak siap mendapat serangan, merasakan pukulan bogem Yunus. ‘’Langsung saya lawan itu Yunus,’’ ungkapnya.

Heri pun melawan. Sayangnya dia terkena sabetan senjata taman yang dibawa Yunus. Yunus pun diamankan di polsek setempat. Heri yang menjadi saksi dalam peristiwa itu diizinkan pulang lantaran harus mendapatkan perawatan medis. ‘’Saya pulang dan ke puskesmas,’’ sambungnya.

Penyebab kejadian itu, Yunus tak terima lantaran mertuanya menyerobot batas tanah rumahnya. Padahal, rumah yang ditempati Yunus dan istrinya merupakan warisan Supi. Yunus sebenarnya tidak diterima di lingkungan desanya lantaran tidak pernah bersosialisasi. ‘’Kalau diundang selamatan tidak pernah hadir sama sekali. Juga berbagai acara di desa,’’ tuturnya.

Rumah tersebut dihuni oleh Yunus dan istrinya. Sementara dua anaknya, yang sulung dititipkan di salah satu pondok pesantran (ponpes) di Madiun. Sementara anak bungsu dititipkan ke orang tuanya di Desa Kincang Wetan, Jiwan, Madiun. ‘’Rumahnya selalu tertutup. Orang sini tidak ada yang berkunjung ke situ,’’ terangnya.

Pada momen tertentu, Heri menyebut rumah Yunus dijadikan tempat untuk pengajian. Namun, para jamaah bukan berasal dari desa setempat. Melainkan dari berbagai luar daerah. ‘’Beberapa kali, tapi yang datang itu bukan orang sini. Yang orang sini cuma Yunus sama istrinya,’’ ujarnya.

Selain tertutup, Heri mengungkapkan penampilan Yunus terkesan eksklusif. Yunus memelihara jenggot dan selalu memakai jubah. Pun menggunakan celana cingkrang. ‘’Celananya cingkrang, juga berjanggut dan menggunakan jubah. Dahinya agak ada hitam-hitamnya begitu,’’ paparnya.

Sementara di lingkungan pasar tempat berjualan, Yunus jarang terlihat. Termasuk di rumah yang lama tidak dihuni; yang menempel dengan lapak kios yang disewakan. Salah satu penjual makanan yang menyewa kios warisan kakek nenek Yunus itu mengatakan bahwa Yunus tidak pernah datang ke kios. ‘’Kebetulan saya sering masuk ke rumah, satu-satunya kios yang bisa masuk ya kios saya, karena saya perlu ambil air untuk mencuci piring,’’ kata penjual makanan yang mewanti-wanti namanya tidak dikorankan itu.

Terkait bagaimana pelaku merakit bom, belum ada pernyataan resmi dari kepolisian. Kapolres Madiun Kota AKBP Nasrun Pasaribu mengungkapkan pihaknya hanya mengawal keamanan proses pemeriksaan. ‘’Tentunya bukan ranah kami untuk menjawab hal itu,’’ kata Nasrun. (kid/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here