Magetan

Tersandung Korupsi Dana Hibah di Panwaslu 2013, Joko Cs Dijebloskan Rutan

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Tiga tersangka dugaan korupsi di lingkup Panwaslu Magetan (sekarang bawaslu) akhirnya mendekam di balik jeruji besi. Sekitar pukul 13.45 Selasa (10/9), ketiganya dibawa ke Rutan Klas II B Magetan.

Ketiga tersangka itu adalah Joko Siswanto, Aris Yulistiono, dan Hariyanto. Saat dibawa ke rutan, mereka mengenakan rompi tahanan dan kedua tangan diborgol. Joko dan Aris tampak tenang berjalan menuju mobil tahanan. Sedangkan Hariyanto menutupi wajahnya dengan masker.

Ketiga tersangka diserahkan Satreskrim Polres Magetan sekitar pukul 09.00. Penyidik yang mendapatkan pelimpahan langsung memeriksa berkas dan barang bukti. Saking banyaknya berkas, pemeriksaan memakan waktu hingga 4 jam 45 menit.

Trio tersangka dugaan korupsi itu sempat salat Duhur berjamaah bersama pegawai Kejari Magetan. ‘’Ketiganya diduga melakukan korupsi dana hibah pemprov dan pemkab dalam pelaksanaan pilgub dan Pilbup 2013 lalu,’’ kata Kajari Magetan Muhammad Rizal Sumadiputra.

Rizal menjelaskan, pada 2013 lalu panwaslu mendapatkan dana hibah dari pemprov dan pemkab masing-masing Rp 500 juta. Duit itu sedianya digunakan untuk sewa kendaraan operasional panwascam. Namun, kenyataannya tidak semua kendaraan operasional yang digunakan panwascam di lapangan merupakan hasil sewa. Beberapa di antaranya merupakan milik Joko yang kala itu tercatat sebagai komisioner. ‘’Nah, dalam LPj (laporan pertanggungjawaban, Red) disebutkan penuh. Direalisasikan tapi di bawah bantuan yang diterima,’’ ujarnya.

Kegiatan itu dilaksanakan pada 2014 silam. Diduga, kendaraan operasional yang dimainkan oleh ketiganya itu milik Joko. Dalam pertanggungjawaban, hanya menyertakan kuitansi sebagai tanda bukti sewa.

Kala itu, ketiganya memerankan aksi sesuai tupoksi masing-masing. Joko menjabat ketua Panwaslu Magetan, Hariyanto sekretaris, dan Aris bendahara. Saat ini, Joko dan Hariyanto sudah pensiun. Sedangkan Aris masih aktif sebagai koordinator sekretariat Bawaslu Magetan. ‘’Bendahara mencairkan anggaran, PPK dan komisioner mengarahkan untuk tidak sewa atau sewa fiktif,’’ ungkapnya.

Rizal menyebut, saat diperiksa tidak semuanya mengaku menikmati hasil korupsi yang merugikan negara sekitar Rp 309 juta tersebut. Namun, itu diabaikan pihak Kejari Magetan dan hanya melihat tupoksi masing-masing tersangka. Ketiganya dinilai telah menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.

‘’Apakah nanti akan menyeret komisioner lain, masih dalam pengembangan. Lihat fakta di persidangan seperti apa,’’ tuturnya sembari menyebut ketiganya dijerat pasal 2 dan 3 juncto pasal 55 UU Tipikor dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

Sekadar diketahui, proses penyidikan dugaan kasus korupsi di tubuh panwaslu itu dilakukan Unit Tipikor Satreskrim Polres Magetan pada 2016 lalu. Tiga tahun berselang, barulah berkas dan tersangka diserahkan kepada Kejari Magetan. (bel/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close