Terpesona Keindahan Kota Tepian Laut Mediterania

28

Berkunjung ke Mesir tak ubahnya melawat ke negeri dongeng. Di negeri para nabi dan wali itu, terhampar deretan sejarah besar tentang peradaban tua yang menggugah dunia. Berikut catatan Arfinanto Arsyadani dari Jawa Pos Radar Madiun yang mengikuti rombongan jamaah umrah ini.

………………..

WAKTU subuh kurang satu jam ketika Jamaah Hero (Happy Cairo) Maret 2019 tiba di Bandara Internasional Kairo. Mesir yang baru selesai dibekap musim dingin masih menyisakan suhu udara 13 derajat. Seusai turun dari Saudia Airlines, jamaah langsung dijemput tour guide. Membelah sepenjuru Kairo yang masih lengang. Melintasi Sungai Nil lalu sarapan di Restoran Wang Fu. Aneka masakan China yang tersaji menghangatkan badan jamaah yang baru beradaptasi dengan dinginnya suhu udara di pagi itu. Sebelum melahap jarak 225 kilometer dari Kairo menuju Alexandria.

Tak banyak yang terlelap. Sepanjang perjalanan, jamaah khusyuk menyimak babad sejarah Mesir. Sembari menikmati tata kota di negeri para nabi tersebut. Rata-rata pemukiman penduduk di antara pebukitan dan gurun pasir itu berupa apartemen. ‘’Sebagian besar warga tinggal di lembah Sungai Nil. Di sanalah lahan paling subur karena dekat dengan sumber mata air utama. Maklum, hujan hanya turun tak lebih dari sepuluh kali setahun. Itu pun sepuluh menit saja,’’ urai Aladin mengawali perkenalan dengan jamaah Ladima di dalam bus.

Tanpa ditanya, guide asli Mesir bernama asli Alaa Adel itu pun spontan menjawab pertanyaan yang tersimpan di benak jamaah. Saat melihat deretan apartemen yang rata-rata kumuh dan kusam. ‘’Dari dalam, apartemen itu tetap bersih dan bagus. Sengaja tidak dicat biar tidak mahal pajaknya,’’ imbuhnya.

Udara berangsur menghangat ketika laju bus mulai memasuki Alexandria. Di wilayah dengan tata kota lebih modern itu, jamaah tak henti berdecak kagum. Tersimpan deretan sejarah penting di kota tepi laut Mediterania. Sesampainya di Citadel of Qaitbay, 27 jamaah yang diantarkan langsung Owner Ladima Tour & Travel H Soenarwoto dan Hj Arie Juwariah itu tak ingin melewatkan pengalaman pertamanya begitu saja. Masing-masing berlomba mengabadikan momen istimewa ini lewat smartphone. ‘’Ladima sendiri baru pertama kali ini menyinggahi Mesir. Negeri ini sangat istimewa,’’ tutur Cak Wot, sapaan H Soenarwoto.

Berdiri di depan benteng yang dibangun Sultan Al Ashraf An Nashr Syaifudin Qaitbay seperti berada di negeri dongeng. Kokohnya bangunan yang dibangun kisaran 872-901 H itu menunjukkan kuatnya pertahanan militer di era Dinasti Mamluk. Ketika menghalau serangan dari pasukan Mongol di pertengahan adab 13. ‘’Banyak pertemuan budaya di Alexandria,’’ timpal Aladin.

Puas berwisata di Citadel of Qaitbay, jamaah langsung bertolak menuju restoran seafood tepian dermaga. Roti Isyh menjadi pembuka sebelum menyantap gurihnya ikan belanak yang menjadi menu utama siang itu. ‘’Tenang. Di Mesir semua makanan halal, dimana pun restorannya,’’ lanjut Aladin mempersilakan jamaah naik ke lantai dua restoran terbaik di Alexandria tersebut. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here