Ternyata Ini Penyebab Sungai Juanda Berubah Jadi Kolam Busa

152

PONOROGO – Kadar basa yang mencemari sungai di penggal Jalan Ir Juanda, Tonatan, Ponorogo, tinggi. Fakta itu terungkap setelah tim laboratorium Ultra Medika Buana, Surabaya, melakukan pengambilan sampel air kemarin (14/1). ‘’Ini sesuai permintaan DLH (dinas lingkungan hidup, Red) Ponorogo,’’ kata Brillian Aulia, anggota tim laboratorium.

Berdasarkan hasil pengambilan sampel, diketahui kandungan PH mencapai 7,93, suhu 28,2 derajat Celsius. Meskipun masih di bawah batas ambang maksimal, kandungan basanya cukup tinggi. ‘’Dimungkinkan ada limbah karena kandungan basa cukup tinggi,’’ ujarnya.

Kendati demikian, Brillian meminta warga tidak perlu khawatir. Sebab, hal itu tidak berdampak pada pencemaran lingkungan. Pun, tidak merusak ekosistem sungai dan sekitarnya. ‘’Kalau tercemar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), tampaknya  belum ada indikasi ke arah situ,’’ tuturnya.

Pengambilan sampel air sungai juga untuk mengukur kadar logam, H2S, CN, dan minyak lemak. Lebih detail pihaknya belum dapat memastikan kadar yang akan diuji. Paling tidak hasil uji laboratorium baru diketahui selambatnya 14 hari mendatang. ‘’Jadi, untuk saat ini belum dapat kami sampaikan hasilnya karena harus diuji terlebih dahulu,’’ terangnya.

Menurut Brillian, kandungan basa yang mendekati ambang maksimal perlu ada tindak lanjut. Terutama untuk mengolah limbah domestik. ‘’Kemungkinan kandungan ini berasal dari limbah domestik. Tapi, lebih tepatnya akan diketahui setelah hasil uji laboratorium didapatkan,’’ ungkapnya.

Kepala DLH Ponorogo Sapto Djatmiko menegaskan, sumber busa yang menutup seluruh permukaan air sungai itu memang bersumber dari limbah domestik. Mengingat daerah sekitar sungai tak ada pabrik. ‘’Di sekitar lokasi tidak terdapat limbah industri,’’ katanya.

Alasan itu diperkuat dengan ekosistem sungai yang tidak rusak. Buktinya, warga masih tetap mancing di sekitar sungai. Artinya, kolam busa itu tidak membuat ikan mati. ‘’Itu semakin menguatkan kalau busa itu memang limbah domestik atau rumah tangga,’’ tegasnya.

Kendati demikian, pihaknya belum dapat memastikan secara pasti adanya kandungan B3 sebelum hasil uji laboratorium dikantongi. Jika memang sungai tercemar, jelas mengancam habitat sungai. Pun lahan pertanian yang dialiri selama ini. ‘’Kemungkinan limbah detergen rumah tangga,’’ sebutnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here