Termakan Isu Kiamat, Satu Keluarga Eksodus ke Malang

108

NGAWI – Aksi eksodus puluhan warga Watu Bonang, Badegan, Ponorogo, terkait isu kiamat ternyata merembet ke Ngawi. Sedikitnya satu keluarga di Dusun Nglencong, Desa Dempel, Geneng, diam-diam telah bertolak ke Malang. Termasuk seorang mahasiswa asal Bojonegoro yang mondok di rumah keluarga tersebut.

Kabar itu terkuak dari keterangan sejumlah warga yang membatalkan niatnya hijrah ke Malang. ‘’Pamitnya ke Malang, mondok,’’ kata Sukarni Mustofa, orang tua dari satu keluarga tersebut, kemarin (15/3).

Satu keluarga yang eksodus ke Malang itu adalah pasangan suami istri (pasutri) Dewi Rudotul Mustofa-Nur Rohman serta dua putranya yang berusia tujuh dan empat setengah tahun.

Sukarni mengatakan, Dewi anaknya bersama menantu dan dua cucunya berangkat ke Malang pada Rabu lalu (6/3). Mereka berangkat dari kediamannya bersama beberapa rombongan. ‘’Setahu saya, rencananya mau berangkat dua bus,’’ lanjut pria 66 tahun itu.

Dia mengungkapkan, seorang lagi yang ikut bertolak ke Malang adalah mahasiswa STIT Islamiyah Karya Pembangunan, Paron. Mahasiswa itu sudah sekitar tujuh bulan mondok di rumah Nur Rohman-Dewi.

Sukarni menyebut, sebelum hijrah ke Malang, sang menantu seperti sedang mengumpulkan jamaah dan menyebarkan ajaran agama. Pun, menggelar pengajian dari satu tempat ke tempat lain di Ngawi. Namun, dia tidak tahu-menahu ajaran yang disebarkan Nur Rohman tersebut. ‘’Sepengetahuan saya, thariqah yang dibawa menantu saya itu tidak tercantum di 40-an thariqah yang diakui,’’ ujarnya.

Sebelum berangkat, lanjut dia, beberapa kali Nur Rohman mengumpulkan jamaah di masjid samping rumah. Pun, selama ini Sukarni tidak menaruh kecurigaan apa pun. Kejanggalan baru terlihat sehari sebelum keberangkatan Nur Rohman dan rombongannya ke Malang.

Sukarni melihat beberapa jamaah ramai-ramai menitipkan aneka perlengkapan seperti orang hendak boyongan. ‘’Saya juga kenal dengan salah seorang yang rencananya mau ikut dengan menantu saya itu. Saya ajak bicara sudah sungguh-sungguh yakin belum, akhirnya tidak jadi berangkat. Warga sini (Desa Dempel, Red) juga,’’ papar Sukarni.

Sukarni baru menyadari putri dan menantunya terjerat isu kiamat sesaat setelah berbincang dengan salah seorang yang membatalkan diri berangkat ke Malang. ‘’Katanya mau ada huru-hara. Kalau mau selamat harus ke Malang membawa persiapan. Motor milik anak dan menantu saya sudah tidak ada setelah mereka berangkat itu. Digadai atau dijual saya tidak tahu,’’ bebernya.

Kades Dempel Sugeng Wiyono membenarkan adanya satu KK warganya yang hijrah ke Malang. Namun, dia tidak tahu-menahu soal keberadaan seorang mahasiswa asal Bojonegero di rumah Nur Rohman. Pasalnya, pihaknya sama sekali belum mendapat laporan. ‘’Tentang kegiatan mondok itu saya juga kurang paham. Saya tanyakan ke ketua RT, katanya juga tidak ada penyerahan fotokopi KTP atau apa,’’ ungkapnya.

Terpisah, Hus, 29, warga Desa Klitik, turut memberi keterangan terkait isu kiamat tersebut. Ibu mertuanya nyaris ikut rombongan Nur Rohman ke Malang. ‘’Sudah benar-benar mau berangkat. Sudah jual sawah juga, katanya untuk sangu ke Malang, tapi nggak jadi,’’ ujarnya sembari menyebut sang ibu mertua sejak beberapa bulan terakhir kerap mengikuti pengajian yang dipimpin Nur Rohman.

Belasan KK di Desa Klitik juga nyaris hijrah ke Malang. Pun, sebagian telah menjual harta bendanya, mulai sawah hingga sapi. Namun, mereka membatalkan niatnya setelah dikumpulkan pada 5 Maret lalu. ‘’Saya curiganya saat ditelepon keponakan yang ada di Jakarta. Dia tanya ada apa kok mendadak disuruh pulang oleh ibunya. Setelah saya cari tahu, ternyata ya kemungkinan besar seperti yang di Ponorogo itu,’’ jelas Kades Klitik Jumirin. (mg8/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here