Terjajah Bawang Putih Tiongkok, Pemkab Minta Pasokan Lima Ton ke Pemprov

375

MEJAYAN – Pemkab Madiun mengajukan pasokan lima ton bawang putih Tiongkok ke Pemprov Jawa Timur. Upaya memanfaatkan komoditi impor demi menekan mahalnya harga hingga menghapus kelangkaan di sejumlah pasar tradisional tidak terelakkan. Sebab, petani kabupaten ini tidak menanam bahan pokok yang harganya sempat menyentuh Rp 50 ribu per kilogram dalam sepekan terakhir. ‘’Selama ini mengambil daerah lain karena Kabupaten Madiun bukan penyedia,’’ kata Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Agus Suyudi Rabu (8/5).

Agus mengungkapkan, harga bawang putih belakangan ini fluktuatif cukup tinggi karena susah dicari. Terhitung kemarin, harga bahan pokok itu di Pasar Caruban Baru di rentang Rp 41 ribu–Rp 42 ribu per kilo. Padahal, bila stabil harganya di kisaran Rp 30-an ribu. Itu merupakan harga normal terakhir sebelum ada lonjakan menjelang Pemilu 2019. Akan tetapi, mahalnya harga berlanjut hingga memasuki Ramadan karena stok daerah lain juga terbatas. Selama ini pedagang memasok dari Nganjuk, Proboloinggo, dan Brebes, Jawa Tengah. ’’Berapa stok saat ini belum bisa menghitung. Kebanyakan pedagang masih menyimpan stok lama,’’ paparnya.

Sedikitnya 150 kontainer berisi bawang putih Tiongkok sudah berada di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya kemarin. Dalam dua hari ini, disperindag Jatim siap mendistribusikannya ke kota/kabupaten di Jatim yang mengalami kelangkaan. Disperdakop-UM pun mengajukan lima ton untuk kebutuhan Pasar Caruban Baru dan Pasar Dolopo. Penyalurannya nanti langsung menyasar konsumen lewat kegiatan pasar murah. Kegiatan itu dilakukan bersama distributor yang telah digandeng pemprov. ’’Masyarakat membeli dengan harga lebih murah karena disubsidi,’’ ucapnya.

Seberapa efektikah bawang putih impor menambal kelangkaan? Agus menilai cukup manjur karena persoalan itu terjadi akibat stok yang terbatas dengan permintaan tinggi. Komoditi tersebut banyak dicari untuk kebutuhan bahan makanan ketika berpuasa. Dia mengesampingkan kelangkaan karena ulah oknum distributor yang memainkan harga. Sebab, kasus bawang putih menjadi problem nasional. ’’Satgas pangan sudah memantau, tidak ada indikasi permainan,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Agus menyatakan, disperindag Jatim belum tentu memberikan stok bawang putih lima ton ke Kabupaten Madiun. Sebab menyesuaikan tingkat kebutuhan daerah lain. Namun, dia meyakini stok bahan dapur itu cukup untuk kebutuhan warga yang kerap ke Pasar Caruban dan Dolopo. Sedangkan Pasar Nglames dan Sambirejo merupakan penyangga. Warga yang tinggal di sana diarahkan membeli ke Kota Madiun karena wilayahnya berdekatan. Kota itu juga mendapat pasokan tujuh ton bawang putih oleh pemprov beberapa waktu lalu. ‘’Masyarakat kecil mungkin hanya membeli setengah kilo atau satu kilo. Beda dengan pengusaha kuliner yang membeli jumlah banyak,’’ paparnya.

Terpisah, Rofiqoh, salah seorang pedagang Pasar Caruban Baru mengungkapkan, harga bawang putih sempat menyentuh Rp 50 ribu. Itu merupakan yang tertinggi yang terjadi sepekan lalu. Selanjutnya, harga bahan dapur itu fluktuatif turun hingga kini di kisaran Rp 40 ribu. Kendati demikian, dia masih belum berani mengambil stok banyak dari distributor. Khawatir bila harganya anjlok ketika sudah mengeluarkan modal besar. ‘’Beberapa waktu lalu saya ambil satu karung (20 kilogram, Red) tapi ternyata harganya turun,’’ katanya. (cor/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here