Terimbas Banjir, Pelaksanaan UTS Ala Kadarnya

76

MADIUN – Mulai kemarin (11/3) hingga Sabtu mendatang (16/3) peserta didik sekolah dasar (SD) di Kabupaten Madiun menjalani ujian tengah semester (UTS) genap. Tak terkecuali di kawasan terdampak banjir. Seperti di SDN Purworejo 1, Kecamatan Pilangkenceng. Meski tak mengenakan seragam sekolah, para peserta didik tetap semangat megikuti ujian ‘’Gak tahu, seragam saya entah ke mana,’’ kata Kevindra Putra Febika, siswi kelas V SDN setempat, kemarin (11/3).

Kevin mengungkapkan bahwa bajunya, termasuk seragam sekolah, terseret banjir Rabu pekan lalu (6/3). Bahkan, sepatu dan peralatan sekolah pun hanyut. Sehingga, dia harus ke sekolah mengenakan baju biasa dan bersandal jepit. Beruntung tasnya masih bisa diselamatkan. Namun, dia tak bisa membawa buku-bukunya. ‘’Buku LKS (lembar kerja siswa, Red) saya hanyut, juga buku catatan,’’ ungkapnya.

Kevin dan para peserta didik lain terdampak banjir berharap mendapat bantuan seragam dan peralatan sekolah. Ketika mengungsi, dia hanya mendapat bantuan pakaian bekas layak pakai dan makanan pokok. Sementara peralatan sekolah sangat minim. ‘’Ada teman saya yang dapat bantuan seragam, tapi saya gak dapat,’’ keluhnya.

Kondisi terparah Jumat pekan lalu (8/3). Siswa kelas VI terpaksa tryout lesehan. Mereka tak sempat membersihkan perabotan sekolah yang berlumpur sisa-sisa banjir. Namun, kemarin mereka sudah bisa menggunakan bangku sekolah untuk UTS. Meski ruang kelas belum benar-benar bersih. ‘’Masih banyak yang harus kami bersihkan,’’ kata Kepala SDN Purworejo 1 Miati.

Miati mengungkapkan, UTS kali ini dilaksanakan ala kadarnya. Termasuk membolehkan siswa tidak berseragam. Pihaknya memaklumi lantaran sebagian besar peserta didiknya dari Dusun Jetak dan Krapyak terdampak banjir parah. ‘’Yang penting ujian tetap bisa berjalan,’’ ujarnya.

Pun ruang kelas belum bisa dibersihkan maksimal. Sehingga, jika siswa mengenakan seragam, dikhawatirkan justru kotor. Sejak Jumat lalu (8/3), para peserta didik sudah kembali ke sekolah meski tak berseragam.

Sedangkan ruang perpustakaan terdampak parah. Apalagi atapnya runtuh sejak sepekan sebelum banjir akibat terjangan angin puting beliung. ‘’Buku-buku yang sudah kami keluarkan dari perpustakaan pun terendam banjir,’’ ungkap Miati.

Selain buku yang sempat dipindahkan rusak, pihaknya juga tak bisa menyelamatkan buku yang masih di dalam perspustakaan yang runtuh. Padahal, buku-buku itu masih baru lantaran  perubahan Kurikulum 2013. ‘’Banyak yang terendam, termasuk komputer juga,’’ jelasnya.

Sementara kondisi SDN Glonggong 1, Kecamatan Balerejo, tak beda jauh. Inventaris sekolah, berkas-berkas penting, buku perpustakaan, dan alat-alat peraga pembelajaran tidak terselamatkan. Bahkan, seluruh alat karawitan berkarat terendam banjir. ‘’Pompa air tak bisa digunakan. Kami harus pinjam warga untuk bersih-bersih,’’ kata Pii Kushartini, kepala sekolah setempat.

Padahal, pihaknya sudah mengantisipasi sejak Rabu pagi. Pasalnya, sudah ada genangan cukup parah di halaman sekolah. Karena air terus naik, dia mengamankan beberapa berkas penting. Namun, air terus naik Rabu malam. Sehingga, berkas-berkas terendam. ‘’Saat malam dikabari penjaga sekolah kalau air naik, saya minta tolong untuk mengamankan barang-barang yang penting,’’ ujarnya.

Pii menyebut banjir kali ini terparah. Tahun-tahun sebelumnya hanya sampai ke halaman sekolah. Itu pun segera surut. Namun, tanggul jebol Rabu pekan lalu berdampak parah pada sekolahnya. ‘’Setahun bisa sampai empat kali banjir, tapi biasanya hanya menggenangi halaman,’’ tuturnya. (mg4/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here