Terduga Teroris Tetangga Dekat Ketua FKUB

242

MADIUN – Kabupaten Madiun menjadi salah satu sel aktif terorisme. Penangkapan Jok oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri di Kelurahan Bangunsari, Mejayan, Selasa lalu (14/5) menambah panjang daftar ketersangkutan kabupaten ini sepanjang sepuluh tahun terakhir. Tidak sekadar lokasi peringkusan, akan tetapi ada warga asli yang punya peran dalam kelompok radikal tersebut.

Data yang dihimpun Radar Caruban, selain Jok, ada tiga kali kejadian. Kali terakhir, ketika tim antiteror meringkus Khoirul Ikhwan, warga Desa Sidomulyo, Wonoasri, Agustus 2013. Dia ditangkap di Bekasi Timur atas keterlibatan perencanaan bom di Kedubes Myanmar. Setahun sebelumnya, penangkapan Agus Anton Figian, warga Desa Sewulan, Dagangan yang merupakan jaringan Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Indonesia (Hasmi). Nanang Irawan merupakan buronan komplotan peneror bom Cirebon yang ditangkap di pabrik kulit Desa Bangunsari, Dolopo, Oktober 2011.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Madiun Muharromain menegaskan, sebenarnya kabupaten ini tidak tergolong rawan terorisme. Sebab, dari sejumlah penangkapan yang terjadi, kecenderungan pelakunya bukan warga asli atau telah lama meninggalkan Kabupaten Madiun. Sebaliknya, para pelakunya merupakan warga pendatang. Artinya, besar kemungkinan masuknya pengaruh ideologi radikal dan menyimpang itu berasal daerah luar. ‘’Kabupaten Madiun sebatas tempat tinggalnya,’’ katanya Jumat (17/5).

Akan tetapi, status domisili itu yang sering kali membuat Muharromain dan anggota lembaganya gusar. Ideologi radikal pelaku ditularkan ke warga lingkungan lewat interaksi dan komunikasi sehari-hari. Karenanya, FKUB intens menyosialisasikan ke masyarakat bahaya dan langkah penangkalan terhadap paham radikalisme. ‘’Yang terpenting bisa memahami bahwa perbedaan itu sesuatu yang wajar. Tetap menjunjung tinggi sikap bertoleransi,’’ tuturnya kepada Radar Caruban.

Menurut Muharromain, upaya pemberantasan jaringan terorisme yang dilakukan aparat kepolisian semakin baik dari tahun ke tahunnya. Para pelaku yang membaur di tengah masyarakat ditangkap lewat operasi senyap yang seringkali mengagetkan publik. Penangkapan Jok yang tinggal di rumah kontrakan Jalan Bromo, Desa/Kecamatan Mejayan, salah satu buktinya. ‘’Saya kenal dia (Jok) dan anak-anaknya karena dekat dengan rumah. Dia memang akrab dengan warga. Makanya, saya betul-betul kaget dengar kabar ditangkap densus 88,’’ paparnya.

Dia meminta warga untuk tidak mengucilkan keluarga yang pindah ke Kabupaten Madiun 10 tahun lalu itu. Mengingat NF, istri Jok dan tiga anaknya masih tinggal di Jalan Bromo. FKUB berencana mengadakan pertemuan dengan warga Mejayan dalam waktu dekat. Itu sebagai bentuk atensi terhadap kejadian penangkapan. ‘’Masyarakat khususnya warga Caruban harus menyikapinya dengan bijak,’’ tuturnya.

Kepala Bakesbangpol Kabupaten Madin Agus Budi Wahyono sependapat bahwa kabupaten ini sebatas tempat transit saja. Hasil kajiannya, tidak ada daerah khusus di kabupaten ini yang dianggap sebagai tempat aman. Mereka sekadar mencari tempat tinggal tanpa melihat kawasan perkotaan atau pinggiran. ‘’Sesuka hati mereka saja,’’ katanya.

Menyikapi kejadian Jok, Agus kembali meminta warga lebih waspada karena pelakunya terbukti mudah bergaul dengan lingkungan. Harus intens berkomunikasi dengan perangkat atau aparat keamanan ketika melihat perilaku mencurigakan tetangga. ‘’Membiasakan lapor ke RT bila ada orang asing yang datang tinggal 1×24 jam,’’ ujarnya. (cor/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here