Mejayan

Terduga Ayah Bayi Masih Misteri?

Polisi Belum Amankan Teman Dekat MSS

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Laki-laki teman MSS yang diduga sebagai ayah bayi merupakan seorang pelajar di salah satu SMK di Mejayan. Kendati identitasnya telah dikantongi, sampai kemarin yang bersangkutan masih dalam pencarian. ‘’Segera kami mintai keterangan,’’ kata Kapolsek Mejayan Kompol Pujiyono.

Polisi terus menyelidiki kematian bayi perempuan MSS, 18, yang lahir tanpa bantuan medis. Bayi malang warga Jalan Semangka, Kelurahan Krajan, Mejayan, itu telah diotopsi tim bidang kedokteran dan kesehatan (bidokkes) Polda Jawa Timur. Hasilnya bakal menjadi petunjuk ada tidaknya unsur menghilangkan nyawa. Pembedahan tubuh bayi dilakukan sekitar pukul 21.00, Minggu (1/12). Tim bidokkes datang lebih awal dari perkiraan. Selesai otopsi, bayi seberat 2,3 kilogram dan panjang 40 sentimeter itu langsung diserahkan ke keluarga YDS, ibu MSS, untuk dimakamkan. ‘’Dikubur tadi malam (Senin malam, Red),’’ ujarnya.

Pujiyono belum bisa bicara banyak ihwal otopsi anak dari pelajar kelas XI salah satu SMK di Mejayan itu. Tim bidokkes membawa pulang hasil pembedahan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Biasanya proses tersebut memakan waktu dua pekan. Hasilnya bakal langsung dikirimkan Polres Madiun. ‘’Tapi, karena sebagai bahan penyelidikan, hasil otopsi itu belum bisa disampaikan ke publik,’’ tuturnya.

Hasil bedah tubuh demi memastikan apakah bayi tewas akibat proses persalinan atau setelah lahir. Mengingat persalinan bayi yang bikin geger warga Jalan Semangka Minggu tengah malam itu tanpa bantuan tenaga profesional. Bayi dimungkinkan terlahir prematur. Kondisi yang mengharuskan adanya penanganan intensif agar nyawa tetap terselamatkan. ‘’Belum bisa mengandai-andai. Penyelidikan terus dilakukan,’’ paparnya.

Diketahui, MSS melahirkan tanpa bantuan medis pada Sabtu malam (30/11) hingga Minggu dini hari. Tetangganya sempat mendengar guyuran air seperti suara orang sedang mandi dari rumahnya sejak pukul 23.00. Bahkan tercium bau amis darah. Lalu MSS dibawa ke RSUD Caruban dan terkuak baru saja melahirkan. Bayinya berada di kamar. Dibungkus kantong kresek dan dimasukkan tas ransel. Saat ditemukan warga, bayi itu sudah tidak bernyawa. (cor/c1/fin)

Plasenta Tertinggal Dikeluarkan Manual

NYAWA MSS nyaris tak terselamatkan seandainya tidak ketahuan YDS, ibunya. Sebab, dia kehilangan banyak darah ketika masuk meja perawatan RSUD Caruban. Hemoglobin (Hb) turun separo dari batas normal ibu yang sedang mengandung. ‘’Ketika datang, Hb-nya 5,5 dari batas paling tidak 12,’’ kata dr Budi Suharto SpOG yang merawat MSS Senin (2/12).

Budi mengungkapkan, penurunan Hb akibat pendarahan hebat dari proses persalinan tanpa bantuan medis. Terjadi retensi plasenta atau sebagian ari-ari masih berada di dalam rahim. Akibat proses pemotongan tanpa dilakukan oleh ahlinya. Malam itu, MSS juga mengalami syok hipovolemik. Tekanan darahnya 80/60 mmHg dan detak jantung menurun. ‘’Kondisinya gawat. Kalau tidak ada yang menolong, dalam beberapa jam bisa tidak selamat,’’ terangnya.

Plasenta yang tertinggal dikeluarkan secara manual. Karena kehilangan banyak darah, petugas melakukan pemulihan. Menambah darah secara bertahap. Hingga kemarin, pelajar kelas XI salah satu SMK di Mejayan itu sudah mendapat transfusi tiga kantong darah. Dokter memperkirakan penambahan satu kantong lagi dengan asumsi Hb naik di atas 10. Transfusi kembali dilakukan bila belum mencapai batas normal itu. Saat ini, kondisi pasien sudah berangsur stabil dan tidak lagi syok. ‘’Hanya perlu pemulihan darah. Kalau Hb sudah di atas 10 boleh pulang,’’ paparnya.

Budi menyebut, kondisi MSS terus dipantau, salah satunya rahim. Persalinan tanpa bantuan medis rentan menimbulkan infeksi atau komplikasi pada bagian itu. Perlu ada penanganan lebih lanjut bila persoalan itu ditemukan. ‘’Mudah-mudahan tidak ada,’’ ujarnya seraya menyebut salah satu kerawanan persalinan tanpa medis bisa membuat seorang perempuan tidak bisa hamil.

Dia tidak bisa memastikan penyebab kematian bayi MSS karena persoalan ini sudah masuk ranah hukum. Namun, berdasar kasus pada umumnya, akibat partus telantar. Bayi lahir tanpa ada perawatan intensif hingga membuat nyawanya tidak tertolong. Di sisi lain, proses persalinan itu ada waktunya, tidak bisa langsung. Keberadaan bidan atau operator medis penting dalam tahapan tersebut. ‘’Kalau ada suara tangis, bayi masih hidup. Tapi, belum tentu sehat karena tergantung ada tidaknya komplikasi lain,’’ jelasnya.

Menurut Budi, upaya MSS melakukan persalinan sendiri karena kehamilannya tidak diinginkan. Informasi dari bidan yang merawat, pasien tidak pernah periksa, cek USG, dan tidak jelas ketika ditanya kapan terakhir kali menstruasi. (cor/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close