Terdampak Banjir, Fondasi Jembatan Kertosari-Bajulan Keropos

155

MADIUN – Sejumlah jembatan terdampak banjir di Kabupaten Madiun berstatus darurat. Terjangan air beberapa waktu lalu mengakibatkan fondasinya keropos. Kondisinya dikhawatirkan bakal semakin parah mengingat berlangsung musim penghujan. ‘’Tidak harus banjir besar, misal terkena aliran air hujan yang terus-menerus,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Arnowo Widjaja kemarin (13/3).

Arnowo menyebut dua jembatan yang fondasinya keropos. Gerusannya mencapai 50–60 persen. Infrastruktur penghubung aset pemkab itu Jembatan Kertosari, Geger, dan Bajulan, di Jalan Pattimura, Mejayan. Sedangkan jembatan aset desa masih diinventarisasi menyeluruh. Beberapa yang terdata ada di Desa Klumutan, Saradan, dan Bulakrejo, Balerejo. Bedanya, kondisi jembatan yang disebut pertama sudah roboh. ‘’Konstruksi tidak masalah, hanya kaki-kaki jembatan sudah tidak kuat,’’ ujarnya.

Meski beda kewenangan, DPUPR bakal menangani jembatan desa yang rusak. Supervisi itu dilakukan lantaran konteksnya terdampak bencana. Akan tetapi penanganan sementara ini mencegah agar kerusakan tidak meluas. Memasang bronjong pada setiap titik fondasi yang keropos. Tindakan itu berlaku pula untuk talut yang ambrol di sekitarnya. DPUPR juga membersihkan rerumpunan pohon bambu di sekitar jembatan yang berpotensi mengganggu aliran air. ‘’Pembersihan dalam dua hingga tiga hari,’’ katanya kepada Radar Mejayan.

Pendataan infrastruktur rusak meliputi estimasi harga perbaikan sementara. Arnowo menyebut taksiran habis mencapai Rp 2,2 miliar. Rekapitulasinya bakal diajukan ke badan pengelolaan keuangan dan aset daerah (BPKAD) lewat badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Selanjutnya dikaji kerusakan yang perlu didahulukan sesuai skala prioritas. ‘’Kalau untuk jalan aman, tidak ada kerusakan parah,’’ ucap Arnowo.

Kondisi jembatan Kertosari cukup memprihatinkan. Jembatan sepanjang 30 meter itu kini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Palang pohon bambu terpasang melintang di setiap bibir akses masuk. Fondasi bagian timur sebelah utara ambles sedalam sekitar lima meter. Hingga menarik aspal di atasnya selebar satu meter dan panjang empat meter. Sejumlah tong dipasang tepat di pinggir gerusan yang ditutup terpal tersebut. ‘’Kejadiannya saat banjir Kamis subuh (7/3). Tahu ambles, warga langsung inisiatif menutup jalan untuk roda empat,’’ ungkap Asep Siswanto, warga desa setempat.

Asep menyatakan jembatan aliran Kali Catur merupakan jalur poros penghubung sejumlah desa di tiga kecamatan. Yakni, Geger, Sidorejo, dan Wungu. Kendaraan roda empat pun harus mencari jalan alternatif. Warga sebelah timur jembatan harus memutar hampir empat kilometer lewat Desa Sidorejo, Wungu, atau Sukosari, Dagangan, untuk ke Jalan Raya Madiun–Ponorogo. Begitu juga sebaliknya. ‘’Sebelumnya tidak ada tanda-tanda kerusakan jembatan,’’ ujarnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here