Terdakwa Perkara Sabu-Sabu Minta Petugasnya Jadi Saksi

162
MEJA HIJAU: Siti Artiyasari (kanan) menjalani sidang di PN Kabupaten Madiun, Selasa lalu. Terdakwa berniat mengajukan dua saksi meringankan dari lapas.

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Madiun bimbang memenuhi permintaan Siti Artiyasari. Ditimbang matang dua petugas jaganya jadi saksi meringankan terdakwa kasus kepemilikan sabu-sabu (SS) empat kilogram itu di persidangan. ‘’Bukan apa-apa, tapi lihat dulu seperti apa (korelasinya),’’ kata Kepala Lapas Kelas I Madiun Thurman Saud Marojahan Hutapea Rabu (4/9).

Sebelumnya Edmon Gani, narapidana (napi) lapas setempat, bersaksi tidak pernah meminta Siti mengambil, mengirimkan, dan menguasai paket SS dari Pekanbaru, Riau, lewat telepon. Bahkan, tidak mengenalnya. Namun, Siti menyebut itu bohong. Lewat penasihat hukum (PH)-nya, terdakwa mengajukan dua saksi meringankan dari petugas lapas. Keduanya disebut mengetahui komunikasi tersebut. ‘’Kalau memang iya harus ada permohonan dari PN (pengadilan negeri, Red),’’ ujarnya.

Thurman tidak mengetahui komunikasi antara Edmon dengan Siti. Pun petugas yang dimaksud. Dia menilai keinginan Siti minta anak buahnya bersaksi itu janggal. Terutama terkait latar belakangnya. Seperti bagaimana bisa mengetahui ada dua penjaga lapas menyaksikan Edmon menghubunginya lewat telepon. ‘’Sehingga, informasi apa yang mau dikorek dari petugas jaga?’’ tanyanya.

Lapas terbuka dengan langkah penyidikan BNNP Jatim. Terutama kala memeriksa Edmon setelah Siti dan Natasya Harsono, terdakwa lainnya, diringkus. Sebab, napi layaran Lapas Medaeng Sidoarjo yang dipidana 10 tahun itu diindikasikan terlibat. ‘’Kami tidak menutup-nutupi apa pun. Bahkan kami pantau perkembangan penyidikannya selama sebulan,’’ papar laki-laki asal Medan, Sumatera Utara, tersebut.

Dia menyebut, jawaban Edmon kepada lembaganya tidak jauh beda dengan penyidik BNNP. Tidak tahu apa-apa kala ditanya seputar keterlibatan pengiriman SS. ‘’Kami tidak bisa apa-apa. Masalah pembuktian kan kewenangan instansi lain,’’ dalihnya.

Disinggung Edmon bisa menggunakan handphone (HP) di dalam sel, Thurman menarik napas panjang. Upaya menanggulangi pelanggaran tersebut sudah diterapkan semaksimal mungkin. Mulai razia dua hari sekali dan penggeledahan. Petugasnya sembilan orang. Namun, napi tidak kalah cerdik mengelabui petugas. Baik menyelundupkan maupun menggunakan sembunyi-sembunyi. ‘’Modusnya banyak,’’ ucapnya seraya menyebut hasil razia tidak melulu HP, kadang SIM card dalam kurun waktu tidak bisa dipastikan.

Modus terungkap dari hasil interogasi napi yang kedapatan memiliki peralatan terlarang tersebut. Misalnya, SIM card yang sudah dipotong. Sedangkan HP dengan memecah komponen yang dimasukkan secara bertahap. ‘’Terakhir napi yang bawa SIM card itu pengakuannya diberi teman setelah ikut persidangan,’’ ujarnya. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here