Tentang Sulami dan Seputar Asmaranya

117

PONOROGO – Jenazah Sulami yang tewas dalam keadaan mengenaskan telah dimakamkan, pukul 19.00, Selasa (10/4). Usai tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara Kediri melakukan otopsi. Secara resmi tim DVI belum menyampaikan hasil otopsi. Hanya saja, diketahui hasil sementara adanya luka bekas bacokan benda tajam sepanjang 20 sentimeter di perut Sulami.

Boyati, 72, ibunya masih mengalami trauma. Hingga kini, dia hanya terduduk lemas meratapi nasib anaknya yang tewas dengan isi perut terburai. Sementara para pelayat terus berdatangan ke rumah duka. ‘’Almarhum jarang bergaul dengan masyarakat sini,’’ kata Marsono, ketua RT setempat.

Di mata warga, Sulami merupakan pribadi tertutup. Termasuk menghadiri berbagai kegiatan sosial. Kehadirannya dapat dihitung jari. Barangkali kesibukannya sebagai pedagang sayur keliling membuatnya tidak punya waktu bersosialisasi. ’’Kalau pas ketemu juga baik, sopan sama warga sini,’’ lanjutnya.

Apalagi Sulami baru terlihat menetap di rumahnya sekitar dua tahun terakhir. Sebelumnya dia memiliki warung di sekitar Terminal Selo Aji. Dia hanya pulang sebentar, lalu pergi. ’’Katanya bekerja tapi banyak yang tidak tahu bekerja di mana. Dengar-dengar punya warung di sekitaran terminal,’’ ungkapnya.

Sejak menetap kembali di rumahnya, Sulami bekerja sebagai pedagang sayur keliling. Tiap hari dia berangkat shubuh untuk mengambil sayur di pasar. Kemudian dijual keliling ke perumahan daerah kota dan kampung-kampung. ‘’Biasanya baru pulang siang hari,’’ sambungnya.

Diperkirakan itu setelah menikah siri dengan Supeno, warga Dolopo, Madiun. Kali pertama Supeno berkunjung ke rumah Sulami minta izin ke Ketua RT setempat untuk menginap. Diperkirakan sekitar 2,5 tahun lalu. ’’Datang ke sini minta izin mau menginap. Nggak saya beri izin karena bukan apa-apanya. Katanya mau menikah siri dengan almarhum. Surat-suratnya katanya mau dicarikan,’’ tuturnya.

Hingga kini surat yang dijanjikan Supeno belum dikirimkan ke RT setempat. Namun, Supeno yang mengaku telah menikah siri dengan Sulami, kerap menginap di rumah tersebut. Kendati demikian, Supeno jarang bersosialisasi. ’’Kadang datang ke rumahnya terus menginap. Lalu pergi,’’ imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Ponorogo, Supeno merupakan suami ketiga Sulami. Dua pernikahan sebelumnya harus kandas di tengah jalan. Pun tanpa diberkahi anak. ‘’Sudah tiga kali menikah ini, semuanya belum memiliki anak,’’ ujarnya.

Siti Khotijah, kakak tiri Sulami (beda bapak) mengatakan suami pertama Sulami warga Desa Mojorejo, Jetis. Dia tidak tahu persis perihal penyebab keretakan rumah tangga adik tirinya tersebut. Setelah resmi bercerai, Sulami menikah dengan Sholikin, warga Jenangan. ’’Cuma sebentar saja, kemudian pisah,’’ kata Siti sambil menyebut Daman, bapaknya Sulami meninggal tiga tahun lalu.

Pisahnya Sulami dengan Sholikin tidak ada yang tahu. Meski belum resmi cerai, Sulami kembali menikah siri dengan Supeno. Sejak saat itu, Sholikin tidak pernah berhubungan dengan Sulami. ‘’Ketemunya di mana, saya sendiri tidak tahu,’’ lanjutnya.

Siti mengungkapkan beberapa hari terakhir, Sulami tidak bekerja. Sebab, adik tirinya itu tengah menderita sakit paru-paru. Bahkan pernah dirawat di rumah sakit selama hampir satu bulan. Dia berharap kejadian itu cepat terungkap. Apakah dibunuh atau bunuh diri. ‘’Memang sebelumnya pernah dua kali mau coba bunuh diri,’’ ucapnya. (mg7/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here