Litera

Tentang Janji yang Kau Ucap

Andika Widaswara

“Aku mau pulang.” Chat-mu di media sosial baru kubaca sore ini. Jika mau jujur, aku telah lelah menunggu kabar darimu. Begitu lama, nglangut. Entah sudah berapa kali musim berganti.

“Sudah kau baca pesanku?”

“Ya, tapi…”

“Aku akan berbicara pada orang tuamu.”

“Ya, hanya saja…”

“Maaf jika membuatmu terlalu lama menunggu. Aku sudah menyiapkan semuanya. Mungkin juga aku akan menetap lama di sana, bersamamu tentunya.”

Kabar kepulanganmu justru mendidihkan darahku. Ruangan kamar serasa panas. Tubuh sesak. Bulir keringat bergiliran merambat, keluar dari sekujur tubuh. Tentang kata-kata, kau adalah ahlinya. Kau pintar merangkai kata. Dan harus kuakui ini adalah fakta menyebalkan tentangmu.

Aku belum mampu melupa, pada sebuah senja yang menjadi muasal dari perpisahan. Kita duduk berdampingan pada tempat duduk dari bambu, di bawah pohon trembesi belakang rumah, sambil memandangi jalan makadam menuju perkebunan.

“Kamu tahu kan, cintaku itu seluas samudra. Kita berpisah hanya sebatas raga. Kepergianku hanya sementara, hatiku akan kembali padamu. Demi masa depan kita bersama.”

“Mengapa tak kau sertakan aku?”

“Kota ini belum pernah kujamah, belum menjadi rumah yang ramah bagiku. Hanya masalah waktu. Tunggulah aku. Aku akan kembali sebagai lelaki. Aku akan meminangmu.”

Itulah janji yang mampu membuatku lupa tempat berdiri. Janji yang begitu rapuh, laksana sarang lebah yang menggantung ringkih di pohon tua. Janji yang membuatku terbang. Menihilkan batas antara kenyataan dan impian. Betapa dasyatnya kata-katamu. Tanpa jaminan apa-apa tetapi mampu membuatku memercayainya segenap hati.

Sudah enam tahun kau tinggalkan aku bersama luka ini. Enam tahun sudah kau tiada berkabar. Aku menunggu penuh harap, menumbuh benci pada masa lalu. Masa lalu retak yang menulis kisah tentang seorang lelaki yang memberi janji, justru menghilang bersama janjinya. Kau mengerti watakku kan? Perempuan cengeng yang selalu mengutuki waktu. Apa kau tak jua rasakan? Aku sadar bahwa ini lukaku, bukan lukamu. Aku menunggu di setiap senja sambil memandangi sisa matahari. Berharap kau kembali pada waktu yang sama saat kita berpisah. Untuk apa? tanyamu. Aku terdiam. Memungut dan menuntut sesal pertemuan enam tahun lalu kala senja.

Yang segera kusadari kini, aku bukanlah alasan utama kepulanganmu. Kini, fotomu akrab kutemui di perempatan jalan, pasar-pasar, pertokoan, dan warung-warung. Sungguh, tak mampu aku menganggap bahwa tak mengenalmu. Kau tampak gagah kini, setelan jas berdasi membuatmu tampak rapi. Serapi hatiku menyimpan kenangan. Serapi kau menyimpan dusta dari janjimu dulu. Yang kutahu kini kau lebih banyak berjanji. Janji yang pernah kubaca saat belanja di pasar. Segera ku yakini bahwa itu bukan janjimu padaku. Kini kau berjanji akan mengaspal jalan, menata taman, membangun posyandu, membangun sekolah, jembatan, hingga mendirikan musala.

“Pilihlah aku.” Fotomu merayu. Pada posisi ini aku memang lemah, dan aku sadar bahwa keadaan ini bisa kau manfaatkan. Tentunya bukan untuk memberikan jawaban atas janjimu dulu.  “Aku peduli pada kalian. Peduli pada kampung kita. Aku akan bangun fasilitas lengkap di sini. Orang kampung terlayani dengan baik. Pembangunan merata untuk kemajuan kampung. Semua untuk kepentingan rakyat.” Senyum di fotomu mengembang.

“Mengapa kau dengan mudah melupakan janjimu padaku?” Lagi, kau hanya tersenyum. Itu pertanyaanku kuajukan kepadamu, dan tak pernah kau jawab. Kini  kau berjanji kepada semua orang dengan tanpa beban. Ah, aku sudah bisa membayangkan nanti jika kau terpilih. Di kampung ini, perkara itu bukan hanya sekali. Setiap lima tahun, mereka berkoar lantang memaparkan janjinya. Aneh-aneh janji mereka. Ada yang berjanji membangun jembatan, padahal tak ada sungai di kampung ini. Ada yang berjanji membangun masjid, namun yang berjanji tak pernah masuk masjid. Begitu sudah terlaksana keinginannya, pemberi janjinya lupa. Bahkan untuk sekadar berkunjung menyapa pemilihnya.

Kini, dengan janjimu yang dulu kau ucapkan padaku, apa sudah kau tepati? Sehingga dengan mudahnya kau berjanji pada semua orang? Mana tanggung jawabmu? Bukan apa-apa, aku juga merindukan pertemuan, tapi bukan seperti sekarang. Kurasa aku tak sesiap untuk sekadar menenangkan dan memenangkan mimpi. Ah, mungkin ada baiknya aku belajar melupa.

“Jadi, mengapa aku harus memilihmu?”

*

“Aku dalam perjalanan pulang. Jemput aku di stasiun kereta. Pukul 4, jangan lebih. Kita nikmati dulu pertemuan. Kita akan berkeliling taman terlebih dulu, mengakrabi bunga-bunga yang sedang bermekaran. Suasana sempurna untuk berbagi cerita.”

Di peron stasiun kereta kutunggu hadirmu. Dadaku sesak, dengus napas ribut, hiruk pikuk berebutan untuk keluar. Aku harus menguasai diri. Setidaknya, tak tampak gugup di hadapanmu. Lelaki yang telah lama membuatku menunggu, akan hadir di hadapanku. Seraut wajah khas yang tak mudah kuhapus dari ingatan segera menyapa mata. Senyum mewah menawan nan aduhai. Langkahmu cepat. Seakan tak sabar untuk mendekat. Aku gugup, maka segera kukenalkan dia. Kau menatapku heran, matamu tajam. Senyummu kecut. Di wajahmu ada baris pertanyaan sepanjang paragraf. Aku tersenyum, puas, merayakan kemenangan.

“Mungkin karirmu hebat sekarang. Kau adalah pilihan orang kampung untuk menjadi wakil mereka. Kau adalah harapan, adalah impian. Tapi maaf, aku telah memilih, dan kau bukanlah pilihan untuk hidup bersamaku.” Kereta berlalu, dan peron masih ramai. Seramai hatiku. (*)

Andika Widaswara, penulis buku sehimpun cerpen Penempuh Sunyi. Saat ini mengajar di SMPN 2 Ngrayun, Ponorogo.

Baca Lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close