Madiun

Tergiur Gaji, Eks TKI Sulit Mandiri

MADIUN – Besarnya tenaga kerja Indonesia (TKI) dari kabupaten ini menjadi bahan evaluasi. Setiap tahun, pemkab mengklaim rutin memberikan pembinaan. Banyak dari mereka yang jatuh miskin lantaran tidak memiliki tabungan dan pekerjaan yang layak sepulang ke tanah air. Yang tidak tahan dengan keadaan, tergoda untuk kembali bekerja ke luar negeri. ‘’Jadi mereka butuh pelatihan,’’ terang Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Madiun Wijanto Djoko Poernomo.

Pelatihan, sebut Totok—sapaan Wijanto Djoko Poernomo, lebih diarahkan kewirausahaan. Disnaker dibantu Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM serta perbankan setempat. ‘’Tiap tahun selalu kami agendakan,’’ tegasnya.

Setidaknya, pelatihan membekali eks TKI kemampuan manajerial keuangan. Itu menjadi modal utama untuk menata perekonomian setelah tak lagi menjadi pahlawan devisa di negara tetangga. Tanpa manajemen yang baik dan pekerjaan yang jelas, pendapatan semakin morat-marit. ‘’Kami dorong membuka usaha secara mandiri dan mengatur keuangan yang baik,’’ terangnya.

Pelatihan diakui belum dapat mengurangi besarnya keberangkatan TKI. Sampai kini, lebih dari 1.000 tenaga berangkat dari kabupaten ini. Upah minimum kabupaten (UMK) Rp 1,7 juta tak sanggup menutupi pesona gaji di luar negeri yang kisarannya tembus Rp 10 juta. ‘’Dengan gaji sebesar itu masih bisa menyisihkan Rp 5-7 juta per bulan. Jelas lebih pilih kerja ke luar negeri,’’ pungkasnya. (fat/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close