Madiun

Temuan Stok Gula Pasir Akan Dibeli Pemkab Madiun

Polisi Diskresi Perkara Mat Rochani

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Aparat kepolisian memilih jalan diskresi dalam menindaklanjuti dugaan penimbunan 87 karung gula pasir di Geger. Mengingat langkah penertiban yang dilakukan juga merespons gejolak harga gula di pasaran akhir-akhir ini. ‘’Dari hasil gelar perkara, asas manfaat lebih dikedepankan dibandingkan asas kepastian hukum,’’ kata Kasatreskrim Polres Madiun AKP Logos Bintoro Senin (23/3)

Diskresi, tegas Logos, menimbang kondisi harga gula pasir di pasaran yang saat ini sedang bergejolak. Saat ini berkisar antara Rp 17 ribu- Rp 18 ribu per kilogram. ‘’Satgas Pangan menghendaki diskresi,’’ tegasnya.

Logos telah berkoordinasi dengan pemkab terkait langkah diskresi ini. Bahwa, sebanyak 4,8 ton gula pasir yang diduga hasil penimbunan itu akan dibeli pemkab. Akan dijadikan komoditas pangan untuk operasi pasar. ‘’Sudah pasti itu. Tinggal teknisnya nanti. Terlapor juga sudah menyetujui. Kalau harganya sesuai HET (harga eceran tertinggi, Red),’’ jelas Logos.

Diketahui, berton-ton gula pasir yang diamankan aparat kepolisian tersebut merupakan jatah petani dari bagi hasil penggilingan tebu. Namun, Logos menyebut tetap ada unsur pelanggaran yang dilakukan Mat Rochani selaku pemiliknya. Lantaran tidak memiliki izin perdagangan. Dugaan pelanggaran itu dikuatkan dengan keterangan saksi ahli dari Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun. HET saat ini hanya mematok Rp 12.500 untuk satu kilogram gula pasir. ‘’Kalau ada petani tebu lain yang memiliki gula pasir dalam jumlah besar, bisa melapor ke Satgas Pangan,’’ ujarnya.

Status Mat Rochani saat ini masih terlapor. Polisi tetap akan menelisik sistem bagi hasil di PG Pagotan. Dijelaskannya, Mat Rochani mendapat total 19 ton dari hasil penggilingan tebu tahun lalu. Sebanyak sembilan ton telah diambil awal Juni 2019. Sekitar 10 ton lagi, diambil lima hari sebelum polisi menggeruduk toko pakan burung miliknya di Jalan Madiun–Ponorogo, Desa Slambur, Kecamatan Geger, Rabu (18/3). Petugas mengamankan 4,8 ton gula. ‘’Selebihnya sudah laku,’’ imbuh Logos.

Logos tidak menampik bahwa ada kelonggaran dari pabrik gula terkait jangka waktu pengambilan bagi hasil untuk petani tebu. Sesuai keterangan Mat Rochani, jatah gula pasir boleh diambil selama rentang penggilingan satu ke penggilingan berikutnya. Sehingga ada peluang besar bisa mengambil jatah gula pada saat terjadi gejolak harga. ‘’Satgas Pangan sudah koordinasi. Kejadian ini dijadikan bahan rapat di internal PG Pagotan,’’ jelasnya.

Pihaknya telah berkirim surat ke PG Pagotan kemarin (23/3). Berapa tebu yang disetor Mat Rochani dan berapa yang didapatkan akan dikroscek lebih lanjut. ‘’Cuma, karena kelangkaan ini, kami lakukan diskresi untuk kebutuhan masyarakat yang lebih luas,’’ pungkasnya. (den/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close