Temuan Batu Kuno di Desa Metesih Terindikasi Benda Cagar Budaya

608
BATU KUNO: Sejumlah anggota komunitas HvM dan relawan budaya Desa Metesih, Jiwan, menunjukkan batu yang diduga peninggalan zaman kerajaan Jumat (19/7).

MADIUN – Wilayah Desa Metesih, Jiwan, Kabupaten Madiun, ditengarai sarat nilai sejarah. Itu setelah Komunitas Historia van Madioen (HvM) dan relawan budaya desa setempat mendapati empat buah batu terindikasi benda cagar budaya (BCB). Indikasi itu mengerucut berdasar karakteristik keempat batu yang diperkirakan berusia hampir 10 abad. ‘’Peninggalan kerajaan apa, yang bisa memastikan ahlinya,’’ kata Sekretaris HvM Adjar Putra Dewantoro Jumat (19/7).

Adjar menjelaskan, empat batu itu bukan temuan hasil penggalian yang tidak disengaja. Melainkan sudah ada sejak dulu kala. Namun, warga tidak menyadari batu itu bernilai sejarah. Sebatas menganggap jenis batu gilang dengan berbagai mitos menyertai. Batu yang ditengarai prasasti di Dusun Gendu, misalnya. Ketika ada warga yang menggeser posisinya, batu itu kembali ke tempat semula. ‘’Sebulan lalu kami tahu setelah blusukan mencari informasi,’’ ujarnya.

Batu di Gendu tergeletak di pekarangan belakang rumah Ali. Bentuknya berbeda dengan batu umumnya. Bagian atas mirip model atap rumah dan ujung bawah melengkung. Panjangnya 1,7 meter dan tinggi 25 sentimeter. Ukuran cukup besar dibanding prasasti lain yang sudah diketahui. Sayangnya, permukaan atas batu itu tidak ada tulisan kunonya. HvM menduga tulisan itu ada di bagian bawah. Namun, komunitas itu tidak berani membaliknya. ‘’Biar BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya, Red) Trowulan yang melakukannya,’’ tutur Adjar.

Dia menjelaskan, indikasi batu adalah prasasti menguat bila dikaitkan dengan tiga batu lainnya di Dusun Koci. Jaraknya kurang dari satu kilometer dari batu di Gendu. Dua di antara tiga batu itu adalah lumpang. Sedangkan satunya yoni. ‘’Lingganya sudah tidak ada,’’ ungkapnya.

Yoni itu diapit dua lumpang di sebuah pekarangan yang di sekelilingnya tembok setinggi 50 sentimeter. Lebar yoni sekitar 12 sentimeter. Di tengahnya ada lubang sedalam 20 sentimeter. Lumpang sebelah timur berdiamater 20 sentimeter dan lubang sedalam 30 sentimeter. Sedangkan sebelah barat memiliki tiga lubang yang berukuran kecil dengan diamater 10 sentimeter. ‘’Kalau benar ini peninggalan kerajaan, kemungkinan ada ukuran lebih besar 1,7 meter sampai dua meter,’’ urainya.

Adjar menyebut, temuan itu sudah disampaikan ke dinas pendidikan dan kebudayaan (dikbud) setempat lewat surat. Informasi itu diharapkan bisa diteruskan ke BPCB untuk penelitian lebih lanjut. ‘’Tidak menutup kemungkinan juga menjadi bagian ekskavasi,’’ pungkasnya. (cor/c1/sat)

1 COMMENT

  1. Apa mungkin peninggalan Prabu Jayakatwang penguasa Gelang – Gelang…..yang sekarang ini namanya Madiun…….kalau di lihat sejarah sih….Karena aku suka sejarah Mojopahit…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here