Litera

Tempat Damai Sebagai Akhir Perjalanan

Andika Widaswara*

“Nak, jadi pulang?”

SUDAH berapa lama kau tak pulang. Terakhir kali mungkin sudah enam bulan lalu. Saat liburan akhir semester. Katamu, lewat pesan yang kau kirimkan seminggu lalu pada ibumu, bahwa akhir pekan ini kau akan pulang. Kau menawarkan oleh-oleh. Tas, sepatu, atau baju baru. Seperti biasa ibumu menolak. Barang-barang itu tak pernah menjadi harapannya, apalagi darimu. Apa yang diharapkan dari seorang anak yang sudah semester akhir namun belum selesai juga skripsinya. Ibumu tak pernah meminta, apalagi menuntut. Ibumu hanya mengharapkan kehadiranmu, tak lebih.

Kampungmu adalah kampung damai. Pohon-pohon rindang berbaris rapi, nyanyi burung-burung merdu bersahutan, petak-petak sawah nan menghijau tertata berpagar gunung menjulang, hawa dingin, berkabut saat pagi dan sore, rumah-rumah penduduk berderet rapi dengan dipisahkan badan jalan. Kampungmu adalah kampung santun dengan penghuninya yang anggun. Penuh kasih sayang. Tak ada permusuhan antar penduduk kampung. Senantiasa hidup rukun dan saling membantu tetangga yang kesusahan. Jika ada tamu dari luar daerah datang, kampung menyambut tamu layaknya keluarga. Tetamu bisa mengadu dan meluapkan masalah hidup, atau hanya sekadar berdiskusi mendapatkan ketentraman batin. Di kampungmu, segalanya serupa kekasih yang membuatmu selalu merindukan apa pun, mengenang apa pun, dan mengajakmu selalu ingin pulang. Kau menghela nafas panjang. Kau sudah berencana menempuh ratusan kilo meter untuk menjumpai ibumu di kampung.

Ibumu sudah pasti mengiris-iris kentang, petai, dan hati ayam. Khusuk di dapur menyiapkan sambal goreng kentang kesukaanmu. Menunggu kedatanganmu dengan sabar dengan harap menggumpal. Rutin mengirimkan pesan bahkan sebelum bus ada di terminal pemberangkatan. Sabtu malam adalah hal berbeda. Bus yang hari biasa sepi, selalu ramai. Sesak dan berjejal manusia. Bahkan terkadang tak menyisakan bangku untuk diduduki. Subuh kau sampai kampung dengan sisa kantuk dari perjalanan semalam.

Warung kopi Bi Inah sudah buka. Masih setia menjual kopi, beberapa gorengan sudah tersaji. Bi Inah tersenyum, kau pun tersenyum. Senyumnya masih hangat menyapa, sehangat gorengan yang baru mentas dari wajan. Pasar desa juga telah memulai aktivitasnya, bangunannya mulai ringkih, sudah agak lapuk karena usia. Namun begitu, pasar ini masihlah denyut nadi kampung. Melihat kau pulang seakan aktivitas pasar berhenti. Mengangguk ramah, memberikan senyum terindah, dan mengayunkan tangan serta merta membungkuk mempersilakan kau lewat.

Ibumu menyambut, melepaskan tas ransel di pinggangmu. Lalu membimbingmu menuju dapur dengan menu sambal goreng kentang yang telah disiapkan. Kau ambil sepiring, ibumu buru-buru menambahkan nasi, menambahkan sambal goreng ke piringmu. Kau mengelak, ibumu yakin bahwa kau masih lapar. Kau pun mengalah. Ibumu tersenyum, lalu beranjak membuatkan teh hangat, sambil tak pernah henti-hentinya bertanya tentang kabarmu enam bulan belakangan. Bagi ibumu pertemuan denganmu adalah harapan, adalah kebahagiaan.

Temanmu, Arpani, tergesa mengetuk pintu kamar kostmu dengan wajah memerah. Keringatnya membasahi muka.

“Seharian gak balas pesan. Kemana saja Bang?”

“Jadi?”

“Ya Bang, di grup sudah ramai.”

“Kita ketemu di titik kumpul, besok.” Arpani menutup pintu kostmu setelah kalian saling berjabat tangan erat.

Kota ini penuh kebencian. Sumpah serapah nyerocos hampir tiap waktu. Seorang ibu yang  membawa anaknya baru lahir di perempatan jalan meminta belas kasihan pemakai jalan, karena suaminya tergoda pada kerling manja wanita lain. Hidup di rumah berhimpit-himpitan dengan tetangga namun tak pernah betegur sapa. Janda-janda yang berlari tunggang langgang menghindar dari terkaman tukang kredit. Para jompo dan lansia yang tiap hari mengutuki anaknya karena tak mau merawat dan justru menyuruhnya meminta recehan di perempatan jalan, atau menitipkannya di pantai jompo. Masih adakah kepedulian pada sesama di kota ini?

Kota ini telah kehilangan kedamaian. Kota yang selama 24 jam tak pernah berhenti gaduh, tak pernah lelah menyuguhkan segala kebisingan. Deru klakson bersahut-sahutan di setiap persimpangan. Pengendara motor yang tak sabar  menyalip lewat trotoar jalan. Brakk… tabrakan kecil terjadi. Kata kata kotor pengendara lepas tanpa rem, dibalas kata kotor pula. Tanpa ada kata maaf mereka ngeloyor dengan menghentakkan gas sekuat-kuatnya. Membuat motornya seakan hendak meloncat. Tak ada teduh pepohonan, karena barisan pepohonan menjelma menjadi tiang-tiang listrik dan lampu-lampu jalan. Jembatan penyeberangan, dinding-dinding penyangga jalan berkoar-koar dengan sombong.

Sekumpulan anak muda dari kalangan mahasiswa yang tak terhitung jumlahnya memaksa masuk gedung perwakilan rakyat. Mereka menganggap gedung ini terlalu angkuh untuk menjadi gedung perwakilan rakyat. Sebagai gedung wakil rakyat yang tak pernah mendengar keluh kesah suara rakyat. Maka, turun ke jalan adalah sebuah pilihan. Sekumpulan petugas berseragam pun bersiaga. Lengkap dengan tameng dan bersenjata. Setidaknya ada dua mobil water canon yang dikerahkan petugas untuk menghalau mahasiswa yang berusaha menerobos masuk. Keriuhan pun pecah. Aksi mulai tak terkendali saat mahasiswa berusaha merangsek ke pagar gedung. Massa memaksa masuk ke dalam kantor. Petugas menembakkan water canon ke arah massa. Di sudut lain massa melontarkan batu sebagai balasan. Polisi lantas melepaskan tembakan gas air mata. Kondisi gedung perwakilan rakyat yang dikepung mahasiswa membuat kondisi tak terkendali dan makin anarkis. Massa membakar gedung, beberapa unit motor dan mobil. Merusak lampu lalu lintas, rambu jalan hingga pembakaran pos petugas.

“Mundur! Rekan-rekan mahasiswa mundur, ayo mundur!” teriak seorang petugas lewat pengeras suara

Bukannya mundur, mahasiswa justru makin melawan. Mereka melempari petugas dengan botol, bambu, dan bebatuan. Petugas pun menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa. Kerumunan mahasiswa mulau terpencar. Sebagian besar mahasiswa memilih menjauh dari pusat ricuh. Mahasiswa terpencar melarikan diri ke sejumlah titik. Pingsan kena gas air mata sejumlah mahasiswa pun jatuh. Sebanyak enam orang tampak digotong setelah petugas menembakkan gas air mata di depan gedung perwakilan rakyat. Keenamnya adalah mahasiswa. Salah satunya adalah kau. Kau tampak lemas dan digotong temanmu menuju ambulans, akibat kehabisan oksigen setelah terkena asap gas air mata. Kau mengeluhkan sesak nafas, batuk, lemas dan pusing. Kau harus ditandu karena kondisimu cukup lemah. Dalam kondisi yang masih belum sepenuhnya terkendali tiba-tiba sebuah batu jatuh tepat di kepalamu. Batu kedua, ketiga, bersusulan, dan entah ke berapa, sudah tak terhitung lagi, menghantam kepala dan pipimu. Darah segar mengucur. Pandanganmu mulai rabun. Darah yang terus mengalir menutupi mata dan asap benda-benda yang dibakar memekatkan pandanganmu. Keadaan makin tak terkendali, bebatuan semakin beterbangan, tembakan gas air mata semakin sering terdengar. Yang kau ingat orang-orang mulai berdatangan. Mereka berusaha untuk mengeluarkanmu dari tempat kericuhan dan membawamu ke rumah sakit. Namun seperti yang kau tahu, mereka terlambat. Kota ini sudah penuh dengan kebencian.

Nak, jadi pulang?

Kau lupa, pesan ibumu belum sempat kau balas. Kau biarkan ibumu di ujung sana menunggu tanpa kepastian. Saban lima menit selalu membuka handphone berharap ada jawaban darimu. Lalu kau biarkan ibumu kecewa, karena tak sepatah kata pun yang kau kirimkan. Kau memilih tempat yang penuh kebencian ini daripada menyambangi ibumu di kampung yang penuh damai. Kesempatanmu adalah sekarang. Segala yang tampak redup, namun menjadi begitu akrab bagimu. Pohon-pohon rindang berbaris rapi, nyanyi burung-burung merdu bersahutan, petak-petak sawah nan menghijau tertata berpagar gunung menjulang, hawa dingin, berkabut saat pagi dan sore, rumah-rumah penduduk berderet rapi dengan dipisahkan badan jalan. Jalan penuh tikungan dan belokan kampung nan bersih, pepohonan silir, burung berkicauan, hamparan pematang sawah nan menghijau berpagar gunung, sungai mengalir jernih, bukit yang terkungkung kabut putih. Kau terlalu hafal. Setiap melewatinya, setiap kali itu pula kau ingin mengulang dari awal. Lagi dan lagi. Semakin jauh, semakin kau terseret. Kau merasa begitu mengakrabinya, begitu mengenalnya. Setiap tempat yang rasanya begitu manis kau rasa sebagai akhir perjalanan.

Kini, ibumu tak perlu lagi menunggu kepulanganmu. Kau hadir dekat, sangat dekat. Saban hari ibumu bisa menemuimu. Tak perlu mengirimkan pesan, juga tak perlu menunggu jawaban. Karena kini, kau pulang ke tampat damai. Benar-benar pulang. Dengan damai.***

*Penulis sehimpun cerpen Penempuh Sunyi, saat ini menjadi pengajar di SMPN 2 Ngrayun

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close