Telisik Isu Doktrin Kiamat, Tim Investigasi Bertolak ke Malang

102

PONOROGO – Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni belum dapat memastikan keberadaan warga yang hijrah sejauh ini. Apakah benar ke pondok pesantren di Malang atau di tempat lain. ‘’Keterangan yang kami dapat dari Kapolres Batu, ada 42 yang dari Ponorogo,’’ kata bupati.

Ipong juga menyayangkan isu doktrin kiamat yang telanjur beredar luas di masyarakat. Pihaknya meminta pondok pesantren terkait mengklarifikasi langsung ke Ponorogo. Agar kabar itu tidak meresahkan masyarakat di kabupaten ini. ‘’Saya minta Gus Romli, pengasuh pondok, bisa memberikan penjelasan ke Ponorogo,’’ ujarnya.

Jika dari ajaran yang disebarkan pihak pesantren tidak menyimpang, Katimun, warga Desa Watu Bonang, Badegan, Ponorogo, juga perlu memberikan keterangan. Sebab, Katimun merupakan tokoh agama desa setempat yang menyebarkan ajaran Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah. ‘’Ini yang sedang dilakukan tim yang sudah kami bentuk. Dari TNI, Polri, Kesbangpol Linmas, MUI, dan ormas,’’ tegasnya.

Dikabarkan, tim dari kapolres setempat bertolak ke Malang kemarin (14/3) untuk memastikan keberadaan warga yang hijrah. ‘’Ini masih kami tunggu hasilnya seperti apa. Mungkin besok (hari ini, Red) sudah diketahui hasilnya,’’ lanjut bupati.

Kapolres Ponorogo AKBP Radiant menegaskan masih melakukan penyelidikan terhadap Katimun yang diduga menyebar tujuh fatwa Thoriqoh Musa, salah satunya doktrin kiamat. Kebenaran dari kabar itu perlu dipastikan. Anggota sedang mencari keberadaan Katimun ke salah satu pondok di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. ‘’Sejauh ini ajaran yang disampaikan tidak ada yang menyimpang,’’ kata Radiant.

Terkait kepindahan warga ke Malang, pihaknya belum dapat memastikan. Apakah itu terkait dengan isu doktrin kiamat atau ada alasan lain yang melatarbelakanginya. ‘’Memang betul kalau orang mau menuntut ilmu di pesantren butuh biaya. Nah, apakah yang jual rumah ini memang ingin pindah atau beli rumah di sana, kita belum dapatkan jawaban itu,’’ terangnya.

Ketua PCNU Ponorogo Fatchul Aziz menegaskan ada distorsi terhadap kejadian itu. Benang merahnya dapat diurai dengan mendatangkan langsung Katimun. Dari situlah dapat diketahui doktrin kiamat memang benar disampaikan atau tidak. ‘’Ada yang janggal. Doktrin itu memang disampaikan pesantren atau hanya Katimun yang menyampaikan,’’ katanya.

Pihaknya berharap semoga langkah yang dilakukan pemkab segera menemui hasil. Agar keresahan di masyarakat dapat diurai. Pihaknya mengimbau agar warga tetap tenang dan tidak termakan isu yang belum jelas kebenarannya. ‘’Kita tunggu langkah dari pihak-pihak terkait yang sedang bekerja,’’ ujarnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here