Telaten Mempertahankan Wayang di Tengah Gerusan Zaman

88

Seiring modernisasi,wayang semakin kurang diminati. Terutama anak-anak. Mereka lebih suka tokoh superhero yang dikenal via film-film impor. Namun, tariman tak pernah berhenti menjajakan dagangan“wayang kulitnya”.

—————-

PERGELARAN wayang kulit di beberapa tempat beberapa hari terakhir membuat Tariman supersibuk. Setiap malam pindah dari satu ke tempat lainnya sambil menenteng ratusan wayang kardus. Tariman bukan seorang dalang. Namun, sejak 10 tahun terakhir wayang-wayang itu dijajakan berkeliling saat ada pentas wayang kulit.

Berbagai tokoh pewayangan dimiliki Tariman. Wayang kulit imitasi itu ditata apik berjejer untuk menarik minat pembeli. Sesekali, layaknya dalang, dia mempraktikkan dialog dua tokoh. Itu membuat beberapa pembeli mengerubungi lapaknya. ‘’Kalau ada pagelaran wayang kulit pasti ramai,’’ katanya.

Bagi Tariman, makin kondang dalang yang pentas, kian meningkat pula omzet yang dikantonginya. Saat pagelaran wayang kulit di Pacitan kemarin (24/2) misalnya. Dalam semalam lebih dari 50 tokoh terjual. Selembar wayang kardus berukuran 30 hingga 50 sentimeter dijual Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu. Lebih dari sejuta rupiah berhasil dikantongi warga Krandikan, Bulukarto, Wonogiri itu. ‘’Saya ambil wayangnya dari tetangga, nggakbikin sendiri,’’ kata pria 60 tahun itu.

Meski begitu, baginya para pecinta wayang saat ini kian sedikit. Beberapa tahun silam, dalam sehari ratusan wayang laku dijual. Bahkan, tak jarang Tariman harus mengambil ulang stok lantaran tingginya permintaan. ‘’Saat ini sudah mulai sedikit peminat wayang. Kalau tidak ada pagelaran pasti sulit lakunya,’’  terangnya sembari menyebut saat sepi hanya terjual 10 lembar wayang.

Untuk mempertahankan asap dapurnya tetap ngebul, berbagai daerah disinggahi Tariman. Bahkan seluruh eks Karesidenan Madiun pernah dijelajahi. Kabupaten Ngawi paling ramai pembeli. Sedangkan Pacitan paling aman. Di kota 1001 gua itu dia tak khawatir meniggalkan atau menitipkan dagangannya. ‘’Saya tinggal tidur.Dialun-alun (Pacitan) ini saya tinggal dagangan gak ilang.Beda dengan dearah lain,’’ ungkap suami Jami itu.

Walaupun berbahan kardus bukan berarti barang dagangnya ecek-ecek. Mirip wayang kulit asli. Baik warna maupun ornamennya. Namun, bapak dua anak itu menyarankan wayangnya cukup sebagai pajangan. ‘’Walaupun kuat, tapi kalau dipukul-pukul lama kelamaan juga rusak,’’ tuturnya.***(sugeng dwi/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here