Telan 40 Butir Kapsul Saban Hari untuk Pulihkan Kondisi Fisik

332

Masih ingat Erwiana Sulistyaningsih? Mantan buruh migran yang saat bekerja di Hong Kong sempat disiksa majikannya hingga nyaris lumpuh itu kini menyandang gelar sarjana. Gadis asal Desa Pucangan, Ngrambe, tersebut lulus dari Universitas Sanata Dharma Jogjakarta dengan predikat cum laude.

DENI KURNIAWAN, Ngawi

SEPASANG mata Erwiana Sulistyaningsih tampak berbinar. Saat melihat raut kedua orang tuanya yang menghadiri prosesi wisudanya siang itu, Erwiana pun tak mampu membendung air mata bahagia. ‘’Akhirnya kesampaian juga kuliah,’’ ujarnya.

Tidak sekadar lulus, Erwiana mampu menyelesaikan pendidikan S-1-nya di jurusan Manajemen Universitas Sanata Dharma Jogjakarta dengan predikat cum laude. Indeks prestasi kumulatif (IPK)-nya 3,64. ‘’Senang dan lega rasanya,’’ kata gadis 27 tahun itu.

Erwiana saat ini masih berada di Jogja. Sulung dua bersaudara pasangan Rohmad Saputro dan Suratmi itu masih ingin berkecimpung dengan kumpulannya. Yakni, sejumlah gerakan yang tak henti memperjuangkan nasib para buruh migran. ‘’Di sini ngekos. Pulang ke Ngawi tidak pasti. Bisa seminggu sekali, sebulan sekali. Pernah juga dua bulan baru mudik,’’ paparnya.

Suara Erwiana terdengar sengau. Bukan gara-gara pilek, melainkan akibat luka yang didapatnya saat masih di Hong Kong. Tulang hidungnya sempat patah. Penganiayaan dari majikan yang dialaminya empat tahun silam belum sembuh benar. Hantaman benda-benda keras yang sering menyasar bagian kepala Erwiana masih menyisakan bekasnya. ‘’Masih sering pusing sampai sekarang,’’ ungkapnya.

Erwiana pulang ke tanah air pada 10 Januari 2014. Kepulangannya kala itu mendapat sorotan luas media. Pun bermacam bantuan datang kepadanya. Salah satunya tawaran dalam dunia pendidikan.

Tekad Erwiana berkuliah begitu kuat. Rasa sakit yang diusungnya dari Hong Kong menjadi teman sehari-hari dalam menimba ilmu. Materi-materi perkuliahan diserapnya sembari merasakan pening di kepala. Lebih-lebih, ketika Erwiana mendapatkan materi kuliah yang menuntut berpikir dan pemahaman lebih. ‘’Belum kuat untuk mikir abot. Kalau dipaksa, rasanya sakit di kepala,’’ akunya.

Erwiana resmi menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma pada Agustus 2014. Kurang lebih tujuh bulan setelah kembali dari Hong Kong dengan luka di sekujur tubuhnya. Dia sempat menjalani operasi sekali untuk menyembuhkan luka fisik yang dideranya.

Pasca-operasi, Erwiana harus mengonsumsi obat antinyeri saban hari. Selama setahun lebih, 40 kapsul mesti ditelannya. Sembari berkuliah, Erwiana rutin menelan puluhan butir kapsul demi kesembuhannya. ‘’Sampai sekarang masih sering ke apotek. Sering ngedrop kalau kecapekan,’’ ungkapnya.

Tak hanya sakit fisik yang diderita Erwiana. Dalam kesehariannya dia berangkat ke kampus juga dengan kondisi psikis tertekan. Pun sempat merasa minder di awal-awal kuliah. ‘’Karena sungkan, tapi lama-lama jadi biasa. Toh saya tidak jahat ke mereka, ngapain harus rendah diri,’’ ujarnya semangat.

Proses panjang mesti dilalui Erwiana menyembuhkan luka fisik maupun psikis yang didapatkannya saat di Hong Kong. Beruntung, salah seorang dosennya merupakan psikiater. Erwiana mendapatkan pelayanan konselor dari gerejanya kala itu.

Sepekan sekali, Erwiana bertamu ke rumah dosennya tersebut untuk mendapatkan perawatan psikis. ‘’Sedih pasti kalau ingat kejadian di Hong Kong dulu. Mau cari modal untuk kuliah malah dapat musibah,’’ kenangnya.

Selain mendapatkan perhatian dari psikiater, Erwiana memilih jalannya sendiri untuk bangkit. Di sela menuntut ilmu, dia aktif berorganisasi. Perkumpulan yang berkaitan dengan buruh-migran diikutinya. Baginya, berkumpul dengan orang-orang yang senasib seperjuangan memberinya semangat lebih. ‘’Ikut LBH di Jogja yang dulu menangani kasus saya juga. Selain tambah semangat, jadi mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan buruh,’’ ujarnya.

Pedih penganiayaan yang diterima dari majikannya di Hong Kong mendorong Erwiana menjadi seorang aktivis. Berkaca dari pengalaman pribadi, dia tidak ingin ada Erwiana-Erwiana selanjutnya. Namun, beberapa kasus yang sempat ditanganinya membuat dadanya sesak. Kekerasan terhadap buruh di luar negeri masih ditemuinya. ‘’Saya bersama perkumpulan pernah ke Ponorogo, Surabaya, Banyuwangi. Ada yang korban kekerasan, kecelakaan kerja, sampai terpidana mati,’’ papar Erwiana.

Erwiana kini telah bergelar sarjana. Empat tahun sudah kasus kekerasan padanya yang sempat membuat Indonesia menjadi sorotan dunia itu berlalu. Kendati demikian, luka yang dialaminya belum 100 persen sembuh. Itu tidak luput dari kebiadaban sang majikan yang saat ini masih mendekam di balik jeruji besi di Hong Kong. ‘’Saya berangkat ke Hong Kong Mei 2013. Tiga hari ikut agen di sana sebelum dijemput majikan,’’ kenangnya.

Erwiana lantas berkisah tentang peristiwa memilukan yang menimpa dirinya empat tahun silam itu. Salah satu cabang perusahaan penyalur buruh migran di Ponorogo disebutnya. Dia mendaftarkan diri pada 2012. Kemudian diberangkatkan ke Hong Kong pada Mei 2013. Sampai di tujuan, Erwiana dijemput agen. Tiga hari kemudian, giliran majikannya yang menjemput. Dari situlah awal nestapa yang dialami Erwiana. ‘’Berat sekali kerjanya,’’ ucapnya.

Dalam sehari Erwiana hanya diberi jatah tidur tiga sampai empat jam. Sementara, seharian penuh perutnya hanya terisi satu bungkus roti semacam bakpao. Terkadang dijatah makan 4-5 lembar roti tawar. Sempat juga nasi, namun serantang untuk sepekan.

Erwiana bekerja tanpa mengenal libur. Gadis itu juga dilarang pegang handphone. ‘’Lima minggu pertama sempat kabur. Tapi, oleh agen dikembalikan lagi. Katanya wajar seperti itu,’’ terang Erwiana.

Kebersihan tiap sudut rumah dibebankan ke Erwiana seorang diri. Mulai kamar mandi sampai lemari beserta isinya tidak boleh ada debu menempel. Fisik Erwiana tak kuasa mendapatkan beban seperti itu. Tubuh yang kelewat lelah membuatnya sempat tertidur saat bekerja. ‘’Ada timer-nya setiap pekerjaan. Melebihi waktu kena pukul, kurang juga iya,’’ ujarnya.

Sekujur tubuhnya menjadi sasaran kalau ada pekerjaan yang dianggap tidak pas oleh majikannya. Kepala Erwiana menjadi yang paling sering disasar. Mulai gagang pel, hanger besi, penggaris, sampai ujung vacum cleaner pernah mendarat di tubuhnya. Benda-benda keras yang ada di sekitar Erwiana saat dianggap salah, sedapatnya diraih si majikan untuk memukulnya. ‘’Meski sudah lulus kuliah, saya akan tetap aktif di organisasi,’’ katanya. ***(c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here