Telah Banyak Karya Literasi Lahir dari Meidyna Arrisandi

152

NGAWI – Pertemuan Meidyna Arrisandi dengan seorang guru SMA-nya yang sastrawan mengantarnya menyelami dunia literasi. Lima puisinya nangkring di Jurnal Puisi Melayu sejak 1997. Terus menulis, karya-karyanya terangkum dalam sampul berupa novel maupun antologi puisi.

———-

Gemerincing angin di malam Natal yang putih

Salju-salju seperti berebut menghiasi jalan

Matahari tampak lupa meninggalkan senyumnya sebelum tenggelam

Hingga malam tak hentinya mengisi musim yang berlalu

Dan setiap tatapan yang kujumpai adalah kabut

Yang mengalun bersama chrismas song di setiap lonceng

 

Limosin yang membawaku belum juga menghentikan nafasnya

Padahal desir yang ia tawarkan benar-benar mengigil

Tak lupa pucuk cemara melambaikan tangannya

Pura-pura mengenal senyum yang kubawa

Sungguh semalam yang menakjubkan dengan keramahannya abadi

 

Bait puisi tersebut ditulis Meidyna Arrisandi 24 tahun silam saat perempuan itu masih duduk di bangku SMA. Karya pertamanya yang terbukukan bersama empat judul puisi lain. Semuanya terkumpul dalam sampul antologi puisi bertajuk Perisa: Jurnal Puisi Melayu. Lima puisi Dyna –sapaan akrabnya– bersanding dengan karya lain dari 24 sastrawan. ‘’Senang sekali rasanya waktu itu,’’ ingatnya.

Dyna kepincut dunia sastra bukan tanpa sebab. Selain memang sudah suka sedari kecil, pertemuannya dengan Tjahjono Widijanto, gurunya sekaligus sastrawan kondang Ngawi, menjadi titik permulaan. ‘’Berkat beliau juga saya jadi makin semangat menulis waktu itu,’’ ujar perempuan 38 tahun ini.

Dyna menjadi murid yang lain daripada yang lain kala itu. Saat sebayanya serius dengan angka dan rumus-rumus, dia malah asyik dengan kata-kata. Dyna kelewat sering mengamati sesuatu lantas menuangkannya dengan diksi pilihan ke dalam tulisan. ‘’Ada kalanya apa yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain, tuntas diungkapkan melalui tulisan,’’ ujarnya.

Sebagai perempuan, Dyna kerap dijalari gelisah dari keseharian yang dijalaninya. Baik dari keluarga, lingkungan pertemanan, sampai yang bertalian dengan asmara anak muda. Menulis menjadi penawar yang jitu saat tidak ada tempat berkeluh kesah. Ya, Dyan bebas menumpahkan berupa-rupa perasaan melalui tulisan. ‘’Dulu sering-sering bertanya juga tentang sastra ke Pak Yon (Tjahjono Widijanto, Red),’’ ungkapnya.

Satu kata terangkai dengan kata selanjutnya. Bait demi bait terbentuk. Tak sedikit judul puisi yang muncul dari buah pikiran Dyna kala itu. Puisi-puisinya pun mengisi kolom berbagai media cetak. Baik media lokal maupu nasional. ‘’Selain senang dimuat di media-media, saya menjadi semakin berani untuk terus menulis,’’ ujar perempuan asli Kelurahan Margomulyo, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, ini.

Kadung jatuh hati dengan sastra, Dyna tetap pada jalannya kendati atmosfer sastra tidak begitu terasa di Bumi Orek-Orek. Kendati demikian, bait demi bait puisi terus mengalir dari tarian tangannya. ‘’Jarang sekali ada acara sastra di Ngawi dulu. Terasa betul perbedaannya setelah saya kuliah,’’ kata penulis yang menguidolakan Dewi ‘Dee’ Lestari ini.

Lulus SMA, Dyna melanjutkan pendidikan ke jurusan bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta. Sibuk dengan materi kuliah tidak meredupkan semangat literasinya. Banyak puisi buatannya yang nampang di berbagai media. ‘’Sebenarnya saya ingin ke luar negeri, menambah referensi untuk keperluan tulisan,’’ ungkapnya.

Belum terpenuhinya keinginan ke luar negeri bukan akhir segalanya. Dyna tetap menulis. Bahkan, tidak hanya puisi. Empat judul novel juga sudah terlahir dari buah pikirannya. ‘’Kebanyakan setting di dalam novel saya berada di luar negeri. Baca-baca buku tentang negara yang akan saya jadikan latar cerita di tulisan,’’ tuturnya.

Seperti pulang. Begitu, Dyna mengibaratkan kegemarannya menulis. Dia selalu merasa senang saat menuangkan apa yang ada di kepalanya ke dalam sebuah tulisan. Kata-kata seolah menjadi tempat curhat ternyaman bagi ibu satu anak ini sampai sekarang.

Bagi istri Danang Aryoko ini, mengutak-atik diksi sudah seperti bercerita kepada keluarga. ‘’Kalau untuk cerpen dan novel, kadang saya catat sekenanya dulu saat tiba-tiba terlintas ide,’’ ujar penulis novel Efesus yang terbit 2017 itu.

Telah banyak puisi, cerpen, dan empat novel berhasil dirampungkan Dyna hingga saat ini. Mulai yang berbahasa Indonesia sampai karya dengan bahasa Inggris. Semua dia kerjakan sembari mengurus anak serta sebagai content writer di tempat bekerjanya. ***(den/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here