Pacitan

Tega! Seorang Rentenir Cabuli Anak Nasabah

Ada Siswi Madrasah yang Dihamili Pacar

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Mata Miduk Siahaan alias Ranu tak berani memandang sorotan kamera. Kepalanya yang terbungkus balaclava hanya menunduk ke bawah. Warga Deli Serdang, Sumatera Utara, itu malu karena menjadi pesakitan.

Pria yang bekerja sebagai rentenir itu ditahan lantaran mencabuli KN asal Arjosari. KN merupakan putri salah seorang nasabahnya. Perbuatan bejat itu dilakukan tersangka pada Sabtu lalu (26/9). Awalnya Ranu berniat menagih angsuran ke IW, orang tua korban. ‘’Pelaku mengaku baterai handphone-nya habis. Jadi, menumpang nge-charge,’’ kata Kasatreskrim Polres Pacitan AKP Juwair Kamis (1/10).

Berahi Ranu berontak ketika melihat KN tidur di lantai. Pelaku kemudian merayu korban. Dia mengaku bisa menyembuhkan penyakit gatal yang diderita bocah 10 tahun itu. ‘’Ibu korban tidak menaruh curiga. Karena memang sudah mengenal pelaku. Jadi, ketika ibunya pergi, pelaku kemudian menyetubuhi korban,’’ bebernya.

Kejadian tersebut terungkap setelah KN mengeluh rewel. Oleh orang tuanya KN dibawa ke bidan desa untuk menjalani pemeriksaan. ‘’Dari situ orang tua korban mengetahui bahwa anaknya telah menjadi korban pencabulan. Mereka lalu menjebak pelaku dan ditangkap di alun-alun Pacitan,’’ terang Juwair.

Selain Ranu, Heri Irawan juga menjadi pesakitan. Dia ditahan karena mencabuli SW, 15, asal Pacitan, hingga hamil dua bulan. ‘’Pelaku dan korban ini pacaran. Dari hasil keterangannya, pelaku sudah menyetubuhi korban sebanyak sembilan kali sejak Juli–Agustus lalu,’’ ungkap mantan kapolsek Mantingan itu. (mg2/c1/her)

Libatkan Psikolog Dampingi Korban

PENCABULAN yang dialami KN dan SW diatensi Dinas PPKB dan PPPA Pacitan. Keduanya langsung dilakukan pembinaan untuk pemulihan psikologis. ‘’Kami berikan pendampingan. Karena keduanya statusnya juga masih pelajar,’’ kata Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas PPKB dan PPPA Pacitan Kartika Indah Susana kemarin (1/10).

Pendampingan dilakukan dengan melibatkan psikolog, bidan, dan dokter. Mereka bertugas untuk menguatkan fisik, psikis, dan pemantauan kesehatan korban secara berkelanjutan. ‘’Sampai mental anak ini bisa kembali pulih,’’ ujarnya.

Kartika menyebut kasus asusila tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan 2019 lalu. Terdapat perbedaan satu kasus yang pihaknya tangani. Namun, kasus ini perlu menjadi pembelajaran. ‘’Terus diberikan motivasi, utamanya pada anak yang masih SD. Minimal sampai sembuh atau usia 18 tahun,’’ jelasnya. (mg2/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close