Madiun

Teater Pilar Merah Pentaskan Naskah Eksperimental

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Drama eksperimental berjudul Manusia Makan Manusia dipentaskan tadi malam (4/10). Di tengah situasi pandemi, karya Teater Pilar Merah tak segan adu adegan dengan lima teater lain yang terpilih tampil dalam Parade Teater Virtual Jatim 2020.

Filesky menuturkan, tiap kelompok teater pentas dari daerahnya masing-masing. Hanya kelompok dari Sidoarjo dan Surabaya yang berkesempatan tampil di Taman Budaya Surabaya. ‘’Meski jarak jauh, kami serius menggarap pementasan ini. Segala persiapan mulai tata artistik panggung, sound, dan kamera disiapkan sejak sore,’’ terang seniman bernama lengkap Tanjung Files itu.

Manusia Makan Manusia diperankan lima aktor. Meski dalam adegannya, tiga tokoh merupakan imajinatif. Pementasannya diawali kemunculan perempuan berpakaian serbahitam menjawab suara pria yang tak tampak wujudnya. Setelah percakapan yang mendedah kegelisahan itu tuntas, dua aktor yang memerankan suami-istri naik ke pementasan. Keduanya memperagakan adegan sedang menyiapkan makanan di dapur. Istri mengelap piring, suami menjaga api tetap menyala. ‘’Konflik mulai timbul saat istri bertanya kepada suaminya hendak makan apa. Sedangkan semua bahan makanan habis tanpa sisa,’’ papar Filesky.

Adegan suami yang merelakan dirinya untuk dimakan menjadi klimaks pementasan. Setelahnya, muncul dua tokoh imajiner. Seorang bercelana hitam dengan setelan kemaja putih dan jas hitam lengkap dengan dasi. Sosok itu mengenakan topeng dongkrek. Seorang lainnya mengenakan pakaian compang-camping. ‘’Ini menggambarkan kondisi rakyat kecil yang terancam tak bisa makan. Entah akibat pandemi maupun penguasa,’’ ungkapnya.

Nasib Seniman di Era Pandemi

Teaterawan Kota Madiun Mamik Wae menandai lima agenda kesenian yang dibatalkan selama pandemi.  Baik pementasan, sutradara, maupun penjurian. ‘’Saya juga berhenti melatih teater di tiga SD dan satu SMA. Secara praktis, saya tidak bekerja lagi,’’ ungkapnya.

Mamik hanya mengandalkan kemampuan melukis untuk bertahan di masa pandemi ini. Dia pun menjadi penerima bantuan sosial Rp 600 ribu (Juli-Agustus). Meski besarannya kini tinggal Rp 300 per bulan. ‘’Lakukan apa saja asal dapat duit, yang penting halal,’’ ujarnya.

Mamik menyebut, sekitar 12 seniman di kota ini mendapat bantuan dana Rp 1 juta dari Pemprov Jatim. Namun, pencairannya tidak langsung. Melainkan dilewatkan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Olahraga (Disparpora) Kota Madiun. ‘’Yang kami sesalkan tidak ada konfirmasi terlebih dahulu. Bantuan diwujudkan sembako dan yang kami terima nilainya kurang lebih seratusan ribu saja,’’ ungkapnya.

Seniman yang berhenti melatih dan melangsungkan pertunjukan sejatinya masih tetap berkarya. Sebagian dari mereka tetap berproduksi lalu unggah karya via YouTube. Atau, banting setir menjadi guru les. ‘’Banyak cara yang dilakukan mereka untuk tetap bertahan di tengah situasi sulit ini,’’ imbuh Pujo Pribadi, teaterawan lain di Kota Madiun. *** (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close