TBC Lebih Gawat daripada HIV/AIDS

103

MADIUN – Tak banyak yang menyadari bahwa penyakit tuberculosis (TBC) lebih berbahaya dari HIV/AIDS. Kedua penyakit ini sama-sama mematikan. Namun, TBC lebih mudah penularannya dibanding HIV/AIDS. Penderita TBC bisa menularkan kuman mycrobacterium tuberculosis hanya dengan berbicara berhadap-hadapan. Berbeda dengan HIV/AIDS yang baru bisa tertular dengan pola hidup ‘’nyleneh’’. ’’Tapi, sayangnya tidak banyak yang mengetahui TBC itu sangat berbahaya. Masyarakat masih menganggap HIV/Aids yang paling bahaya,’’ terang Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan Didik Setyo Margono.

Gejalanya juga tak banyak disadari oleh masyarakat. Karena hanya mengalami batuk berdahak. Gejalanya itu tidak dapat dikenali sembarangan. Biarpun, batuk berdahak itu berlangsung terus – menerus hingga dua pekan lamanya. Selain lama, batu itu akan bercampur dengan darah serta demam yang diderita pasien secara berkepanjangan. Sebab, untuk memvonis pasien menderita TBC, harus melalui uji laboratorium atau foto rontgen. ’’Ada pemeriksaan darah khusus,’’ katanya.

Bukan hanya batuk yang menjadi gejala TBC. Pasien akan mengalami nyeri dada dan sesak nafas. Nafsu makan akan menurun, sehingga membuat badan menjadi lemas. Akibatnya, berat badan berangsur-angsur menurun.  Saat malam hari, pasien akan berkeringat meskipun tidak melakukan kegiatan apapun. ‘’TBC ini paling sering menyerang paru-paru. Tapi, dapat juga mengenai organ lain, seperti selaput otak, mata, hati, usus, kelenjar getah bening, tulang dan klit,’’ jelasnya.

Sekali pasien divonis menderita TBC, maka harus mengonsumsi obat secara terus – menerus selama enam bulan untuk bisa sembuh. Satu hari saja tidak mengonsumsi obat, maka harus mengulangi dari awal lagi. setelah melewati masa enam bulan pengobatan, pasien tidak akan dinyatakan sembuh begitu saja. Harus ada evaluasi melalui pemeriksaan dahak untuk memastikannya. ‘’Selama masa pengobatan, pasien harus diawasi oleh PMO (pengawas menelan obat) agar tidak lupa dalam meminum obat secara rutin,’’ ungkapnya.

Jika pasien berhenti minum obat TBC, maka penyakit tersebut tidak sembuh. Sehingga sangat berpotensi menular ke orang lain. Terutama kepada mereka yang setiap hari berinteraksi dengan pasien. Kumat TBC dalam tubuh menjadi kebal terhadap obat. Sehingga, pengobatan berikutnya akan lebih lama dan lebih mahal karena jenis obatnya berbeda. ’’Kuman TBC yang sudah kebal terhadap obat juga dapat ditularkan kepada orang lain dengan status kebal obat,’’ paparnya.

Selama 2018 lalu, setidaknya warga Magetan tercatat sebanyak 773 penderita TBC. 16 di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Banyak hal menjadi penyebab pasien TBC harus terenggut nyawanya. Diantaranya lambannya penanganan karena tidak menyadari gejala-gejala yang muncul. Mereka menganggap batuk tersebut hanya batuk biasa sehingga tidak ada penanganan khusus. ’’Seharusnya, kalau sudah dua minggu batuk itu segera periksa. Karena pada dasarnya TBC ini bisa disembuhkan,’’ terangnya. (bel/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here