Bupati Menulis

Tata Kehidupan Baru

Betapa rindunya kita semua pada kehidupan seperti sebelumnya. Bisa melakukan apa saja sesuka hati kita. Bisa ngobrol berlama-lama di warung, kafe, restoran. Atau belanja di luar kota. Bahkan belanja juga ke mana kita suka. Ke Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong, Seoul-Korea Selatan, dan tempat lain yang biasa menjadi tempat favorit belanja kita masing-masing.

Malahan kita juga bisa pergi ke tempat wisata ternama di tanah air, seperti Bali, Labuhan Bajo, Raja Ampat. Bahkan juga ke luar negeri seperti ke Australia, Selandia Baru, Jepang, India, China, atau ke Eropa dan Amerika. Semua yang biasa dilakukan pada masa-masa itu sirna begitu saja selama empat bulan ini.

Yang mengalami kerinduan itu tidak hanya masyarakat Magetan, Jawa Timur, Indonesia. Bahkan masyarakat dunia. Karena Covid-19 telah membuat porak peranda semua tatanan kehidupan sebelumnya. Kerinduan itu bermacam-macam cara diekspresikan. Sebagian masyarakat Amerika melakukan protes melalui demo. Atau bentuk-bentuk lain yang lebih lunak. Kalau di Indonesia bentuk kebosanan selama pandemi Covid-19 itu diekspresikan seperti penolakan perpanjangan PSBB.

Bagaimana dengan rasa bosan Magetan itu diekspresikan? Banyak hal yang dilakukan kalau menurut catatan saya. Bagi pedagang ternak, menyampaikan melalui pesan, kapan dibuka pasar hewan di wilayah Magetan, karena selama ini itulah sumber kehidupannya. Bagi seniman, bagaimana nasib seniman. Yang karena diimbau mengurangi kerumunan dan menunda resepsi seperti pernikahan, kesempatan manggung menjadi tertutup.

Pedagang di alun-alun juga menanyakan. Bagaimana dan kapan dibuka lagi alun-alun Magetan untuk umum, sehingga yang jualan makanan bisa mencari nafkah kembali. Demikian juga tempat wisata. Kapan tempat wisata seperti Sarangan dibuka kembali. Karena masyarakat Magetan yang bergantung pada sektor ini cukup tinggi.

Bagaimana sekolahan, pondok pesantren, tempat ibadah, dan lain-lain kapan dibuka kembali. Semua berhubungan dengan sumber kehidupan. Sungguh, dalam situasi seperti ini sangat sulit. Baik bagi pengambil kebijakan maupun masyarakat luas yang harus menghadapi dampak dari pandemi yang semua aktivitasnya harus sesuai dengan protokol kesehatan.

Semua merindukan kehidupan yang normal. Bebas pergi ke mana saja. Bisa belanja, bisa pergi ke tempat wisata, bisa pergi sekolah, kuliah, nongkrong di kafe, warung, tempat ibadah, dan lain-lain. Namun ketika pandemi Covid-19 semua terhenti.

Saya sejak awal ketika pandemi ini masuk di Magetan, sekitar satu bulan kemudian ada beberapa arahan yang saya sampaikan ke segenap organisasi pemerintah daerah (OPD). Pertama, pandemi ini menyerang di seluruh dunia. Tidak ada pimpinan yang paling hebat dalam menghadapinya. Oleh sebab itu kita harus bersatu padu untuk menghadapinya. Seluruh komponen disiplin menerapkan protokol kesehatan. Karena Covid-19 belum ditemukan vaksinnya. Kedua, kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini dinyatakan berakhir. Oleh sebab itu semua hal harus diperhitungkan secara matang. Semua harus dihemat.

Ketiga, semua yang kita lakukan harus transparan. Masyarakat harus tahu, sampai dengan korban. Informasikan secara cepat melalui berbagai media. Sehingga masyarakat bisa mengambil peran untuk menjaga lingkungan masing-masing. Kapan korban, misal, melakukan isolasi mandiri (bila OTG). Tentu lingkungan akan terdampak karena lingkungan sekitar akan dilakukan isolasi juga agar virus tidak menyebar.

Keempat, program dan proyek padat karya harus tetap jalan. Utamanya yang sangat urgen untuk kehidupan masyarakat. Seperti pembangunan saluran irigasi, jalan, dan lain-lain. Karena krisis kesehatan ini tidak boleh membawa dampak ekonomi terlalu dalam. Kalau sampai terjadi akan sangat menyulitkan kehidupan masyarakat.

Kelima, APBD yang diperuntukkan menghadapi pandemi Covid-19 ini harus hemat. Perlakuan APBD harus berbeda dalam kondisi normal, yang diharapkan diperkecil silpa. Karena kita juga harus berpikir jangan sampai ketika pandemi ini dinyatakan berakhir atau dilonggarkan, APBD sebagai salah satu penggerak ekonomi di Magetan menjadi tetap bisa mengambil peran. Proyek jalan, masyarakat mendapat kesempatan kerja, aktivitas ekonomi terdongkrak karena belanja pemerintah daerah.

Keenam, kita juga harus mempersiapkan tata kehidupan baru. Lembaga riset tentu perlu waktu untuk menemukan vaksin. Dari berbagai jurnal yang saya baca, sampai dengan digunakan secara masal perlu waktu paling tidak setahun. Dan sebelum ditemukan vaksin kita harus mulai hidup bersama atau berdampingan dengan Covid-19. Oleh sebab itu kita harus segera menyusun protokol kehidupan baru. Dan saat ini kita betul mulai memasuki tata kehidupan baru tersebut.

Setelah sekitar empat bulan kita semua mengalami rasanya menghadapi pandemi ini. Sudah tiba waktunya kita mulai belajar hidup bersama dengan Covid-19. Tentu ada tata kehidupan baru yang haru mulai kita akrabi bersama. Di tengah pandemi ini setidaknya memberi pelajaran kepada kita semua, bahwa hidup bersih itu harus menjadi budaya kita. Jangan sampai kita kembali terjebak pada pola hidup lama.

Juga ternyata kita selama ini mengabaikan teknologi yang sudah ada di sekitar kita. Kalau menggunakan tidak secara optimal. Ambil contoh, selama ini kita sering melakukan rapat kerja atau rakernas yang sangat menguras tenaga dan biaya. Dan ternyata ada aplikasi semacam Zoom dan sejenisnya yang dapat digunakan untuk pertemuan virtual yang dapat melibatkan banyak peserta tanpa meninggalkan tempatnya.

Demikian juga pertujukan atau festival bisa melalui virtual. Ambil contoh dilakukan oleh dalang kondang dari Jogjakarta dengan melakukan pertujukan virtual melalui live streaming dengan nama “Wayang Climen.” Climen biasa diartikan sebagai bentuk kesederhanaan. Tampil lebih sederhana tidak kompleks dengan mengurangi perangkat yang standar. Demikian juga durasi waktunya lebih pendek.

“Konser Amal dari Rumah Didi Kempot” selama tiga jam dan disiarkan salah satu stasiun TV menghasilkan donasi 5,3 miliar. Ini menunjukkan ada sebuah dunia baru, cara baru, tata hidup baru yang tak kalah menjajikan. Dan kita harus mulai mengakrabinya. Sebuah kenicayaan dari perkembangan teknologi utamanya teknologi digital yang demikian cepatnya.

Belajar dari situlah, kita harus mulai mengakrabi yang namanya Covid-19. Kita harus tetap sehat, aman, dan yang lebih penting lagi tetap produktif. Caranya bagaimana? Hidup berdampingan dengan Covid-19, dengan menerapkan tata kehidupan baru, disiplin dengan protokol kesehatan tapi tetap produktif. Dan tata kehidupan baru ini harus dimulai.

Oleh sebab itulah dua minggu yang lalu, di Magetan telah dimulai dibuka pasar hewan di Plaosan. Semua pedagang harus masuk pasar dengan menjaga jarak, pakai masker, disemprot disinfektan. Sebelum masuk pasar cuci tangan, penjual dan pengunjung diukur suhu tubuhnya, dan lain-lain.

Demikian juga, alun-alun Magetan mulai tanggal 20 Juni 2020 sudah mulai diuji coba. Pengunjung dan penjual menerapkan protokol kesehatan. Sarangan akan kita uji coba mulai hari Senin ini. Pelayanan yang lain juga mulai disiapkan untuk dibuka. Seperti uji kir kendaraan bermotor. Demikian juga mal pelayanan publik yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Magetan terus berbenah dan akan dibuka kembali tanggal 29 Juni 2020.

Kita sudah siapkan tata kehidupan baru. Termasuk perangkat hukumnya dengan mengeluarkan Peraturan Bupati untuk mengatur ini semua. Tata kehidupan baru memang harus segera kita masuki dan akrabi. Dan yang lebih penting tata kehidupan baru ini tidak boleh mungurangi produktivitas kita. Ternyata kita bisa belajar dari pandemi ini. Selamat datang di tata kehidupan baru. Dan selamat datang untuk kita semua di kehidupan baru yang telah kita rindukan.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close