Madiun

Targetkan Peningkatan Produksi di Masa Pandemi, Pabrik Gula Rogoh Biaya Ekstra

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Produksi gula tak terkendala pandemi Covid-19. Pada musim giling ini, Pabrik Gula (PG) Rejo Agung Baru justru menargetkan peningkatan produksi melampaui tahun lalu.

PG Rejo Agung Baru mengerahkan 1.050 pekerja tebang untuk panen tebu. Dengan masa produksi selama 125 hari. Mulai 4 Juni hingga akhir September. Pandemi juga memaksa pabrik yang pernah jaya di masanya itu harus mengeluarkan biaya ekstra. ‘’Dampak pandemi memang sangat terasa, memunculkan biaya ekstra,’’ kata General Manager (GM) PG Rejo Agung Baru Tono Suharyanto.

Itung-itungan Tono, biaya ekstra yang dikeluarkan selama pandemi mencapai Rp 240 juta. Itu termasuk biaya rapid test bagi 600 pekerja sebelum masa giling. Meski seluruh pekerja dinyatakan nonreaktif, PG Rejo Agung tetap memfasilitasi vitamin, masker, tempat cuci tangan, dan hand sanitizer. ‘’Kami patut bersyukur karena sampai hari ini tidak ada yang terindikasi Covid-19,’’ ujar Tono.

Memasuki musim giling ke-22 hari, Tono optimistis target produksi tahun ini dapat tercapai. Pihaknya mematok target 5 persen lebih tinggi dari tahun lalu. Sebanyak 52.328 ton dari tahun sebelumnya sekitar 47.500 ton. Dengan kapasitas produksi 6 ribu ton per hari. ‘’Kami optimistis target produksi tahun ini tercapai,’’ ungkapnya.

Target itu diperoleh dari penggilangan 670.000 ton tebu dengan rendemen 7,8 persen. Bahan baku tebu diperoleh dari kerja sama dengan sejumlah pihak. Sebab 90 persen tebu sebagai bahan baku yang diproduksi berasal dari kemitraan alias petani. Sedangkan 10 persennya dikelola oleh pabrik. ‘’Target yang ditetapkan ini diharapkan juga bisa memberikan dampak yang positif bagi stakeholder dan masyarakat,’’ ucapnya.

Banyak petani yang bermitra dengan PG Rejo Agung Baru Madiun. Mereka berasal dari delapan kota dan kabupaten mulai Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Nganjuk, Sragen, dan Bojonegoro. Pembinaan dan fasilitasi bagi mitra petani tetap berjalan. Mekanisme kerja pun mengacu tatanan normal baru. Jam kerja dibagi tiga sif. Menghindari kerumunan, masing-masing stasiun tidak berganti sif secara bersamaan. ‘’Penebang, sopir truk, dan pekerja wajib mengenakan masker. Semuanya diwajibkan cuci tangan di setiap stasiun,’’ tuturnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close