Target Cukai Melonjak, Harga Vape Terdongkrak

107

Kabar kenaikan harga rokok konvensional turut merisaukan pengguna vape. Harga rokok elektrik yang mulai populer 2012 silam itu dikabarkan ikut naik. Seiring rencana pemerintah menaikkan cukai rokok 23 persen pada 2020 mendatang.

……………….

LIQUID, cairan isi vape, telah memiliki pita cukai resmi. Surat keputusan terkait rencana kenaikan harganya dimungkinkan turun ke daerah pada akhir tahun. Sebagaimana saat kenaikan 2018 lalu, surat keputusannya turun di akhir 2017. ‘’2019 tidak ada kenaikan. Kemungkinan besar, 2020 cukainya naik karena memang target pendapatan juga naik,’’ kata Staf Humas Bea Cukai Kota Madiun David Julian.

Target pendapatan cukai di Kota Madiun meningkat setiap tahunnya. Dari target tahun lalu sebesar Rp 400 miliar, meningkat Rp 430 miliar di tahun ini. ‘’Kita tunggu saja surat keputusan resminya. Hindari pesan berantai soal harga kenaikan rokok. Itu belum tentu kebenarannya,’’ ujarnya.

Dheka Putra Adriansyah terkejut mendengar kabar kenaikan harga vape di tahun depan. Warga Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, itu telanjur menambatkan isapan pada rokok elektrik. ‘’Baru dengar sekarang,’’ kata Dheka.

Setahun lalu, dia meninggalkan rokok konvensional. Dadanya terasa sesak dan tenggorokannya sakit. Ketika itu, dia terbiasa menghabiskan sebungkus rokok sehari. ‘’Lalu ganti vape. Awal pakai rasanya aneh gitu,’’ ungkapnya.

Lambat laun, Dheka terbiasa. Nyeri di dadanya pun sirna. Sempat kembali mengisap rokok konvensional dua bulanan, sesaknya kambuh. ‘’Sampai sekarang tetap menggunakan vape,’’ tegasnya.

Jika pun harga liquid resmi dinaikkan, dia tak terlalu mempermasalahkan. Terpenting, kebiasaannya merokok tetap jalan, tanpa sesak. Setelah beralih ke vape, pengeluarannya pun berkurang. Dalam sebulan dia hanya menghabiskan satu botol liquid seharga Rp 120 ribu. Lebih hemat dari rokok konvensional yang biasanya tiap bulan menghabiskan Rp 600 ribu. ‘’Kalaupun nanti harganya naik semoga tidak terlalu signifikan,’’ harapnya.

Alasan kesehatan juga melandasi Vio Fajar Fitra, warga Taman. Vio yang perokok aktif sejak 2016 lalu beralih isapan ke vape setahun belakangan setelah mengalami radang tenggorokan. Meskipun bukan atas anjuran dokter dan tanpa pemeriksaan kesehatan, Vio memutuskan menggunakan vape. ‘’Kebanyakan rokok rasanya pahit dan sering bikin radang. Vape enggak,’’ katanya.

Namun, Wahyu Setiawan, warga asal Tulungagung yang menetap di Nglames, punya alasan lain menggunakan vape. Empat tahun sudah dia mengisapnya. Berawal dari coba-coba, ketagihan hingga sekarang. ‘’Setelah dicoba rasanya manis dan wangi,’’ ujar pria yang sebelumnya bukan perokok itu. (kid/c1/fin) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here