MadiunPendidikan

Tantangan Guru Kelompok Belajar Usia Dasar

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Pembelajaran daring menuntut guru mengampu kerja ganda. Khususnya yang mengampu periode tumbuh kembang anak seperti di jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK).

Sangat sulit bagi pendidik di kelompok usia belajar dasar itu menerapkan pembelajaran dalam jaringan (daring). Agar tetap melangsungkan pembelajaran tatap muka, mendatangi satu per satu rumah murid menjadi satu-satunya cara terbaik. Guru selayaknya manusia super dengan kemampuan serbabisa.

Novian Yudiari menuturkan, proporsi pembelajaran daring sepadan dengan tatap muka. ‘’50 persen daring, 50 persen datang ke rumah murid,’’ kata guru PAUD Cendekia Kids Schools (CKS) itu Kamis (23/7).

Saat mendatangi rumah murid, guru PAUD maupun TK biasanya mengajak bermain secara edukatif. Seperti mengajarkan cara melipat sederhana hingga tepuk tangan untuk melatih otot motorik. ‘’Saat di rumah murid, guru juga memberi ruang bagi orang tua untuk sharing jika ada kendala,’’ ujarnya.

Di masa pandemi ini, penting bagi orang tua menginformasikan status zonasi wilayahnya. Tentunya, rumah murid yang berada di zona rawan untuk sementara dihindarkan. ‘’Karena guru juga harus dilindungi,’’ terangnya.

Kedatangan guru ke rumah sangat dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi belajar murid. Sekaligus meringankan beban orang tua yang selama beberapa bulan terakhir harus mendampingi langsung pembelajaran anaknya. Kerja sama antara guru dengan orang tua sangat diperlukan. ‘’PAUD dan TK tidak ada penilaian. Pengamatannya sebatas pada tumbuh kembang dan karakter murid,’’ paparnya.

Materi pembelajarannya berkisar mengasah kemampuan mengurus diri sendiri. Seperti bangun tidur di pagi hari dan rajin beribadah. Juga, pembiasaan untuk merapikan tempat tidur dan membantu orang tua membuang sampah dan sebagainya. ‘’Itu mungkin sepele, tapi ini penting utnuk membentuk karakter anak. Kalau tidak dibiasakan, nanti saat dewasa bisa berantakan,’’ ungkapnya.

Untuk pembelajaran daring, cukup dilakukan sepekan sekali melalui aplikasi Zoom. Sebelum kelas virtual dimulai, guru mengumpulkan semua kendala yang disaring dari masukan orang tua saat kunjungan di rumah. Sehingga bisa dibahas dan dicarikan solusi bersama saat berlangsung kelas virtual. ‘’Live Zoom sama seperti di sekolah. Tetap diawali dengan doa lalu dilanjutkan kegiatan pembelajaran,” urainya.

Pembelajaran daring berusaha tidak memberatkan orang tua. Jadwal rutin harian yang dibuat pihak sekolah tak harus benar-benar dijadikan patokan. Dijalankan sesuai kemampuan masing-masing anak dan orang tuanya. Sembari tiap lembaga pendidikan terus mencari bentuk terbaik dari model pembelajaran di masa pandemi ini. Beberapa orang tua sudah merasakan adanya perubahan positif terhadap anaknya setelah mengikuti pembelajaran. Perlahan murid jadi tahu kapan waktu belajar dan kapan waktunya bermain. ‘’Bagaimanapun anak-anak tetap berkeinginan masuk sekolah lagi. Semoga pandemi Covid-19 ini lekas berlalu,’’ harapnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close