Tanpa Solusi, Puluhan KK Peracik Arak Kerek Menganggur

18

NGAWI – Puluhan kepala keluarga (KK) di Dusun Poncol, Desa Kerek, bak kena pukulan telak. Penutupan sentra produksi arak Kerek membuat mereka limbung. Praktis, sementara sebagain besar warga masih menganggur. ’’Warga (peracik arak) masih bingung, solusi dari pemkab juga belum ada,’’ kata Kepala Desa Kerek Suprapti kemarin (10/5).

Kata dia, total sebanyak 76 KK yang kini menanti kejelasan. Pihak pemerintah desa (pemdes) sudah mendapat informasi terkait wacana produksi etanol. Meski begitu, dia masih ragu. Sebab, bakal muncul dampak lain. ’’Kemungkinan proses menuju itu juga akan lama,’’ ujarnya.

Suprapti menyebut, kembali mengebulnya tungku penyulingan juga berisiko. Sebab, warganya akan kembali berkecimpung di dunia produksi alkohol. Ada kekhawatiran nanti ada oknum yang memanfaatkan kondisi itu secara diam-diam untuk kembali memproduksi arak. ’’Sebelum jadi etanol kan jadi arak lebih dulu. Kecuali kalau ada peraturan khusus nantinya,’’ jelas Suprapti.

Menurutnya, solusi terbaik adalah dengan beralih ke jenis pekerjaan lain. Yakni, pekerjaan yang setiap hari bisa menghasilkan kendati jangka pendek. Setidaknya ada pemasukan setiap hari untuk warganya bisa mencukupi kebutuhan. Kiranya pemerintah pun mendukung penuh hal tersebut. Termasuk, pemberian pendampingan pelatihan hingga menyalurkan ke dunia kerja. ’’Kalau kembali ke produksi arak atau etanol, pawon-pawon untuk menyuling juga sudah dirusak. Estimasi dananya kemungkinan imbang,’’ jelasnya.

Meski begitu, Suprapti mafhum jika kebijakan berada di tangan Pemkab Ngawi. Pun, dengan para warga kembali mengenai kebijakan tersebut. Dia blak-blakan mengaku bingung dengan kondisi sejumlah warganya. Suprapti mengklaim bahwa pembekuan tersebut kelewat dini alias mogol. Sebab, penertiban tidak dibarengi dengan solusi pengalihan mata pencarian yang jelas. ’’Sebagai warga, kami ya kelabakan,’’ tuturnya.

Suprapti menyayangkan penertiban yang dinilainya mendadak itu. Alangkah baiknya, jauh hari sebelumnya warga yang bersangkutan diberi sosialisasi terlebih dulu. Tidak kalah penting, warga mendapat pengarahan secara rinci sebelum produksi arak benar-benar dibekukan. ’’Beberapa yang masih punya tabungan beralih ke usaha lain. Tapi, banyak juga yang menganggur. Padahal keluarganya butuh makan setiap hari,’’ jelasnya.

Kondisi seperti itu kiranya membuat pening kepala Suprapti. Selain kondisi psikis warganya yang tratapan saat patroli kepolisian datang, meraka kini kesulitan pangan. Hingga dua pekan pasca penutupan itu, Suprapti mengklaim sama sekali belum ada bantuan dari pemerintah setempat. Padahal, kebutuhan pangan disebutnya begitu mendesak. ’’Saat ini yang mendesak diperlukan adalah untuk makan, semoga pemkab segera tanggap pasca pembekuan ini,’’ harapnya.

Sejumlah warga yang menggantungkan hidupnya sebagai peracik arak kini betul-betul nganggur. Sebab, tidak sedikit dari mereka yang menempatkan produksi arak sebagai sumber penghasilan utama. Suprapti tidak menampik jika beberapa di antaranya memiliki ladang untuk berkebun. Namun, lantaran kondisi geografis, ladang hanya bisa panen saat musim penghujan. ’’Semuanya tentu paham kondisi Desa Kerek itu seperti apa, tandus,’’ ungkapnya.

Sementara itu, puluhan peracik arak di Dusun Poncol benar adanya dirundung kebingunan. Waji, 66, misalnya. Pasca pembekuan produksi miras, dia tidak tahu hendak berbuat apa. Faktor sumber daya manusia (SDM) menjadi momok. Sebab, keahlian yang dimilikinya hanya menyuling tetes tebu menjadi arjo. Itu sudah dikuasainya secara turun-temurun. ’’Nganggur setelah ditutup. Bagaimana nantinya, cuma bisa manut Bu Lurah (Kades Kresek Suprapti, Red),’’ ujar Waji. (mg8/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here