Tangani Korban Pelecehan Seksual hingga Anak Hiperaktif

37
TEKUN: Ineu sedang berpose di ruang kerjanya

Berkecimpung di dunia psikologi bukanlah persoalan gampang. Setidaknya, seorang psikolog harus berhadapan dengan klien yang memiliki beragam karakter. Itu pula yang dialami Ineu Prihatiniwulan selama 23 tahun menjadi psikolog.

DILA RAHMATIKA, Madiun

KANTOR Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPTP2A) Dinas Sosial Kota Madiun siang itu tampak lengang. Di salah satu ruangan, Ineu Prihatiniwulan terlihat sedang berbincang serius dengan sepasang suami istri. Beberapa menit berselang, pasangan itu keluar, namun seolah seperti tidak saling kenal. ‘’Memang sedang ada masalah keluarga, sampai-sampai tidak saling sapa,’’ kata Ineu.
Di ruang konsultasi itulah setiap Jumat Ineu menghabiskan waktunya sebagai pendamping psikologi. Sedangkan setiap Rabu atau Kamis dia bertugas di BKKBN sebagai konselor keluarga. ‘’Di luar hari itu saya buka praktik sendiri di rumah,’’ tutur perempuan kelahiran Surabaya 50 tahun silam ini.
Sudah 23 tahun Ineu menjadi psikolog. Selama itu pula dia menghadapi ratusan pasien dengan beragam karakter. Meski begitu, warga Perumahan Puri Hayam Wuruk itu tetap enjoy melakoni pekerjaannya. ‘’Saya justru belajar dari mereka langsung,’’ katanya.
Ineu mengawali karirnya di RS Lanud Iswahjudi sebagai asisten psikolog. Pagi membantu praktik di rumah sakit, sorenya di Klinik Teratai Kota Madiun. Pengalaman yang paling diingatnya adalah saat kali pertama diminta memberikan materi di hadapan puluhan pilot. ‘’Di dalam ruang itu saya perempuan sendiri, sempat bingung dan kikuk,’’ kenangnya.
Dari Klinik Teratai, pada 2004 Ineu bergabung menjadi relawan konsultan di PPTP2A. Di lembaga itu dia sering diminta menangani kasus yang menimpa anak-anak. Mulai kekerasan fisik sampai pelecehan seksual. ‘’Beberapa anak, selain mengalami luka fisik, psikisnya juga terganggu,’’ terangnya.
Pengalaman menegangkan pernah dirasakan Ineu saat menangani anak hiperaktif dan ekspresif kala dirinya sedang hamil lima bulan. Setelah konsultasi dan keluar ruangan, si anak tiba-tiba mengamuk. Ineu yang ketakutan segera mengunci pintu. ‘’Dia gedor-gedor pintu. Di luar banyak benda tajam. Untungnya ada pasien lain yang bisa mengatasi keadaan,’’ bebernya.
Pernah pula Ineu dikejar-kejar pasien yang rutin berkonsultasi dengannya. Setiap selesai praktik, Ineu memilih pulang dengan sembunyi-sembunyi agar tidak dibuntuti sampai rumah. Dia menduga orang itu telanjur nyaman berkonsultasi dengannya. ‘’Maunya ketemu saya terus, makanya saya sembunyi-sembunyi. Kalau tahu rumah saya, bisa datang setiap hari,’’ ungkapnya.
Alumnus psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta ini tidak pernah menyangka bakal berprofesi sebagai seorang psikolog. Pasalnya, saat masih remaja dikenal sebagai sosok pendiam yang lebih sering menjadi pendengar. ‘’Waktu teman-teman tahu saya jadi psikolog, mereka kaget. Soalnya, tahunya mereka saya nggak bisa ngomong di depan orang banyak,’’ ucapnya. ***(c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here