Tangan Retak, Mario Masih Nekat Balapan

228

MOTEGI – Keberuntungan belum berpihak pada Mario Suryo Aji. Rider 14 tahun itu kembali harus keluar lintasan dari Sirkuit Motegi, Jepang, kemarin (19/10) sekitar pukul 14.00 WIB. Race pertama di Negeri Sakura itu, Mario harus rela mengakhiri balapan pada lap keenam. Dia lagi–lagi terlempar dari sepeda motornya. Alhasil, poin yang dikumpulkannya masih belum beranjak dari angka 122. ’’Jatuh lagi, sendiri,’’ kata Hartoto, ayah Mario.

Hartoto belum mengetahui pasti kondisi putra ketiganya itu yang memulai balapan pada pole position tersebut. Namun, melihat Mario bisa berjalan sendiri pasca terjatuh, Hartoto yakin putranya baik–baik saja. Memang, setelah terjatuh pada race di Sentul, Bogor, pekan lalu, tangan kanan Mario retak. Sehingga, saat digunakan untuk mengulir gas terkadang terasa sakit. ’’Semoga tidak apa-apa dan bisa melanjutkan race keduanya besok (hari ini, Red),’’ harapnya.

Setelah terjatuh di Sentul, sejatinya rider Astra Honda Racing Team (AHRT) itu disarankan dokternya untuk tidak bergerak selama enam minggu. Namun, siswa SMPN 3 Magetan itu tetap ingin menuntaskan Asia Road Racing Championship (ARRC) 2018. Apalagi, final seri kelima bakal dihelat di Malaysia dua pekan lagi. Sehingga, Mario tetap turun sirkuit dengan menahan rasa sakit. ’’Tapi, bagaimana lagi serinya kalau berhenti,’’ ucapnya.

Hartoto hanya bisa berharap putranya tidak mengalami cedera yang bertambah serius. Sehingga bisa menuntaskan race hingga final. Bagaimanapun, Mario tak hanya melambungkan nama Kabupaten Magetan hingga kancah internasional. Tapi juga nama Indonesia. Dukungan demi dukungan terus diberikan kepada siswa kelas VII itu. ’’Pihak sekolah dan disdikpora (dinas pendidikan pemuda dan olahraga, Red) sangat pengertian. Karena anaknya benar-benar balapan, bukan hanya main–main,’’ terangnya.

Dalam race kali ini, Hartoto memang tidak mendampingi Mario. Ada tim dan manajer yang setia mendampingi putranya itu. Dia memercayakan semuanya kepada tim Mario. Keluarga yang hanya bisa menonton live di televisi, tidak berhenti berdoa agar Mario bisa naik podium seperti race–race sebelumnya. Namun, dewi fortuna masih belum merestui Mario untuk mengangkat plakat juara. ’’Karena masih retak, katanya agak nyeri,’’ ungkapnya.

Hartoto dan keluarga hanya menonton langsung saat Mario race di Indonesia. Itu pun Hartoto hanya bisa melihat dari jauh, dari tribun penonton. Dia mengaku beruntung saat bisa membawa guru dan teman–teman sekolah Mario untuk nontong langsung. Sayang, Mario malah terjatuh saat dukungan untuknya begitu meriah. ’’Mungkin grogi atau bagaimana. Namanya balapan kan gitu,’’ ucapnya. (bel/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here