Tangan Dingin Ahmad Masruri Rakit Alat Fogging

490

Kreativitas Ahmad Masruri bisa menjadi solusi. Di tengah kepungan wabah demam berdarah dengue (DBD) sekarang ini, warga Desa Setono, Kecamatan Jenangan, itu berhasil membuat sendiri alat fogging untuk memberangus nyamuk Aedes aegypti di lingkungannya.

——————–

PEKAT asap keluar dari alat semprot ciptaan Ahmad Masruri. Alat itu serupa fogging yang biasa digunakan dinas kesehatan (dinkes). Bedanya, alat buatan rumahan itu tidak mengeluarkan suara gemuruh saat digunakan penyemprotan. Di pucuk alatnya terdapat logam berbentuk spiral yang merah membara setiap beroperasi. Dari pucuk alat itu tersambung slang yang menghubungkan ke pompa sprayer berukuran sedang. Biasanya, pompa itu digunakan untuk menyemproti burung kicauan. Tangan Ruri -sapaan Ahmad Masruri- menekan ujung pompa. Dari pompa tersebut mengalir cairan melewati slang menuju logam spiral. Asap pun mengepul keluar dari ujung alat tersebut. Dia pun memegang alat sederhana itu ke tempat yang hendak diasapi. ‘’Saya buat sebelum datang musim penghujan ini,’’ ujarnya.

Sudah lama Ruri berinisiatif membuat alat fogging sederhana. Terutama ketika melihat tetangganya terjangkit demam berdarah dengue (DBD). Kebetulan, waktu itu ada petugas dari dinkes setempat melakukan fogging di lingkungannya. Dia melihat petugas mencampurkan obat dengan solar. Dari situlah dia tahu cairan yang digunakan fogging. Dia pun tinggal memikirkan seperti apa cara kerja dan bentuk dari alat yang akan diciptakannya. ‘’Sebenarnya cara kerjanya seperti alat vape yang biasa digunakan pengganti rokok itu,’’ tuturnya.

Kata siapa fogging tidak penting? Saat merantau di Korea Selatan 2001-2005 lalu, Ruri mendapati hampir tiap rumah memiliki alat fogging sendiri. Saat musim hujan dan banyak nyamuk seperti saat ini, dua minggu sekali warga fogging di lingkungan rumahnya masing-masing. Karena itu, Ruri semakin mantap untuk membuat alat sederhana tapi berguna tersebut. ‘’Untuk yang beli ada beberapa alat, tapi itu pun masih terjangkau harganya,’’ ungkap ayah satu anak tersebut.

Setelah menyiapkan bahan berupa pipa tembaga bekas AC, gas gun, pompa sprayer, dan gas portabel, Ruri merakitnya. Pipa tembaga bekas AC berbentuk spiral digunakan lantaran bisa merambatkan panas dengan baik. Pipa tembaga tersebut dihubungkan ke pompa sprayer menggunakan slang. Pun, pipa dihubungkan ke gas portabel melalui gas gun. Gas gun itulah yang akan memanasi pipa tembaga tersebut. Sehingga cairan berupa campuran malathion dan solar di pompa spray berubah menjadi asap. ‘’Karena terkena panas ini, akhirnya jadi asap. Sebenarnya sederhana cara kerjanya,’’ terangnya.

Proses pengerjaan alat sederhana itu tidak memakan waktu lama. Hanya dua jam waktu perakitannya. Berkat pengalaman puluhan tahun bekerja di dunia pengelasan. Sebenarnya dia membuat alat untuk digunakan pribadi. Hanya, belakangan banyak yang memesan. Seiring mewabahnya DBD hingga ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) di pembuka tahun ini. Kebanyakan pemesan baru dari kalangan tetangga sendiri.  ‘’Masih perlu dikembangkan lagi biar lebih sempurna,’’ tutur suami Wiharyati itu.

Meski pesanan berdatangan, dia mengaku belum mampu menerima semuanya. Selain keterbatasan tenaga, pesanan lain di bidang las yang dia kerjakan juga banyak. Dia ingin memproduksi masal setelah alat ciptaannya disempurnakan. Gas portabel yang mahal dan sulit didapatkan, rencananya bakal diganti tabung gas elpiji 3 kg. Ruri pun buka pintu lebar bagi warga yang ingin belajar pembuatannya. ‘’Sebenarnya buat seperti ini bukan untuk dijual, tapi untuk dipakai pribadi. Tapi, karena banyak yang pesan akhirnya terus produksi,’’ ucap pria kelahiran 1983 itu. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here