Tanaman Baceken dan Diserang Ulat Buah, Petani Cabai Merugi

149

PACITAN – Anomali cuaca berdampak kurang baik pada sektor pertanian di Pacitan. Tidak hanya hamparan lahan padi yang diserang wereng. Produksi cabai pun terimbas guyuran hujan. Para petani mengeluh karena tanaman cabai mereka rontok bahkan mati lantaran kabanyakan air. ‘’Alum (layu) karena kebanyakan air,’’ kata Boni, petani cabai di Dusun Krajan, Gunungsari, Arjosari, kemarin (8/2).

Boni dan beberapa petani cabai setempat harus panen dini. Bahkan, harus dicabuti karena mati. Padahal, buahnya hampir memasuki masa panen. Menurut Boni, hujan deras membuat saluran irigasi meluap dan menggenangi lahan selama beberapa hari. Meski bisa dikeringkan, namun hujan yang mengguyur setiap sore membuat lahan kembali tergenang. ‘’Baru mau panen tapi sebagian rusak,’’ ujarnya.

Meski belum siap, cabai yang masih hijau dipilah untuk dijual. Cabai muda tersebut dijual Rp 3.000 per kilogram. Sementara jika kondisi bagus harga bisa mencapai Rp 8.000 per kilogram. Tergolong murah jika dibandingkan musim sebelumya yang bisa mencapai Rp 15 ribu per kilogram. ‘’Sekarang murah, cabainya juga banyak yang rusak dan mati,’’ tuturnya.

Dia hanya bisa berharap cuaca lebih bersahabat. Sebab, Boni telah menanam ratusan batang cabai di lahannya. Jika bagus, dia memprediksi dapat mengantongi 100 kilogram cabai sekali panen dengan estimasi hanra Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. ‘’Cabai bisa panen beberapa kali. Lebih dari sepuluh kali, kalau cuacanya bagus,’’ terangnya sembari berharap harga juga naik.

Selain baceken atau kebanyakan air, serangan ulat buah turut mengancam tanaman cabainya. Hama tersebut biasa menyerang jenis rawit. Jika terserang cabai langsung rusak dan rontok. Sehingga tak laku dijual. Pun petani membiarkan cabai berserakan di bawah pohon. ‘’Sudah gak bisa dijual karena bolong dan ada ulatnya,’’ ungkap Suparti, petani cabai lainnya.

Parti menambahkan, puluhan kilogram cabainya terbuang percuma lantaran terserang hama. Pun pada musim hujan seperti sekarang jumlah ulat buah berkembang pesat. Padahal beberapa kali dia telah menyemprot dengan pestisida. ‘’Tiap tahun kalau musim hujan sering begini, tapi tahun ini lebih parah,’’ pungkasnya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here