Tampil Modis, Kerap Jadi Sasaran Rayuan Gombal Sopir

237

DEBU material bertaburan di Desa Dadapan, Kendal, siang itu. Maklum, sedang ada perbaikan jalan di sana. Ratusan meter ruas Jalan Raya Kendal-Jogorogo dicor. Buka-tutup arus lalu lintas terpaksa diterapkan di sekitar titik jalan yang diperbaiki.

Di ujung selatan ruas jalan yang diperbaiki, Anita Suryani tampak sibuk menyetop kendaraan. Sesaat setelah melihat kibasan bendera hijau dari ujung jalan satunya, perempuan itu menyilakan deretan kendaraan melintas. ‘’Masuk, Pak Eko,’’ seloroh Anita kepada sopir-sopir kendaraan yang baru saja dihentikan, menirukan jargon khas komedian Deni Afriandi alias Cak Percil.

Sesaat setelah kendaraan habis, Nita –sapaan Anita Suryani– memberi aba-aba kembali kepada rekannya di ujung utara dengan melambai-lambaikan tangannya. Dia lantas menepi, mencari titik teduh pohon mangga di pinggir jalan. Masker yang semula menutup separo wajahnya ditanggalkan.

Sesaat kemudian Nita melepas topi koboi di kepalanya. Lalu, dikibas-kibaskannya topi tersebut ke wajah perempuan berhijab tersebut. ‘’Hop… hop… hop…’’ teriak Nita sembari mengulurkan lengan kanannya bak polisi lalu lintas yang sedang bertugas.

Kacamata mengkilap biru dikenakan Nita menahan silap si raja siang yang tengah terik-teriknya itu. Pakaian yang dikenakannya –jaket dan rok jins– pun tampak modis. Sikapnya yang grapyak, tegas, dan santun saat mengatur lalu lintas menuai senyum pengguna jalan yang melintas. Pun, sopir-sopir itu tampak ringan memasukkan sejumlah rupiah ke ember bekas cat yang ditenteng Nita. ‘’Sudah hampir dua bulan seperti ini,’’ kata Nita setelah menenggak air putih bekalnya.

Ruwetnya lalu lintas di ruas jalan yang tengah direnovasi itu membuat warga setempat ketar-ketir. Cekcok antarpengendara sering terjadi di ruas jalan yang hanya dibuka satu lajur lantaran perbaikan tersebut. Pun tabrakan kecil kerap terjadi akibat ulah pengendara yang mau menangnya sendiri.

Berawal dari kondisi yang demikian itu, warga setempat berinisiatif ambil bagian mengatur lalu lintas. ‘’Uang hasil mengatur jalan dimasukkan kas karang taruna. Sebagian diberikan kepada yang mengatur seperti saya ini,’’ papar perempuan 30 tahun itu.

Lewat rembuk karang taruna, akhirnya muncul ide menurunkan polisi gopek dadakan. Meski begitu, mereka sepakat tidak memaksa pengemudi memberi rupiah untuk aksi tersebut. ‘’Semuanya sukarela tanpa ada paksaan. Ada yang ngasih alhamdulillah. Kalau nggak juga nggak papa,’’ ujar Nita.

Ibu dua anak ini sudah sekitar dua bulan menjadi ’’polisi gopek’’ dadakan. Selain prihatin karena kerap terjadi cekcok antarpengendara bahkan sampai kecelakaan, sedikit tambahan penghasilan membuatnya rela berpanas-panasan. ‘’Ada empat sif, pagi sampai malam, gantian jaganya. Pagi sampai siang dijaga pemuda-pemuda, kalau sore giliran anak-anak usia sekolah,’’ paparnya.

Nita sendiri kebagian jatah jaga siang mulai pukul 10.00 sampai 14.00. Tak mau napasnya sesak lantaran banyak debu beterbangan, selembar kain dijadikannya sebagi masker penutup mulut dan hidung. Sementara, terik matahari disiasati dengan topi koboi.

Silapnya cahaya dihalau dengan kacamata kekinian –biru metalik warnanya. Penampilan seperti itu membuat sopir-sopir merasa adem dan terkesan betah menunggu dibukakannya jalur. ‘’Hitung-hitung bantu suami cari duit,’’ ujar istri Rudiana ini.

Tidak hanya koin dan pecahan rupiah ribuan yang masuk ke ember cat bekas yang dijinjingnya. Tidak jarang pengemudi menyisihkan sebagian muatannya untuk diberikan kepada perempuan itu. Mulai sayur, bumbu dapur, sampai berkat acara mantenan pernah diterimanya. ‘’Ada juga sales kopi kemasan yang ngasih beberapa sachet,’’ ungkap Nita terkekeh.

Bak dua sisi mata uang, status perempuan yang disandangnya memancing perilaku kurang sopan sejumlah pengemudi. Telinga Nita tak jarang mendengar tawaran genit dan rayuan gombal dari sejumlah sopir. Kendati demikian, Nita tak tergoda. ‘’Aneh-aneh tingkah sopir-sopir itu. Diminta lepas masker, diberi uang tambahan. Diminta copot kacamata, diberi tambahan lagi,’’ ujar Nita sembari menggeleng-gelengkan kepala. ***(mg8/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here