Magetan

Tambah Enam Pasien Klaster Luar Daerah

Warga Pulang Kampung saat Momen Idul Adha

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Idul Adha 1441 H beberapa waktu lalu menjadi momen kurang mengenakkan bagi Pemkab Magetan. Enam pekerja yang pulang kampung jelang hari raya kurban itu terkonfirmasi positif Covid-19 Selasa (11/8). ‘’Enam pasien baru itu dari Kecamatan Bendo, Ngariboyo, Magetan, Parang, dan Kawedanan,’’ kata Ketua Tim Penanggulangan Covid-19 Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan Didik Setyo Margono.

Didik menyebut, sumber penularan enam pasien itu dari luar daerah. Ketika tiba di kampung halaman, masing-masing melakukan uji cepat Covid-19 di puskesmas terdekat. Karena hasilnya reaktif, ditindaklanjuti dengan tes swab. ‘’Warga yang terlibat kontak erat akhirnya masuk lingkaran contact tracing,’’ terangnya.

Dia menyayangkan penambahan pasien baru kali ini. Semestinya, keenam warga itu rapid test terlebih dahulu sebelum memutuskan pulang kampung. Kasus kali ini harus dijadikan pembelajaran. ‘’Ketika baru pulang dari luar daerah, khususnya menjadi episentrum Covid-19, lakukan isolasi mandiri,’’ ucapnya.

Sementara, total terdapat 181 kasus positif Covid-19 dan 71 suspect per kemarin. Tiga di antaranya dinyatakan sembuh. Yakni, warga Sidorejo, Kawedanan, dan Parang. (bel/c1/cor)

Enggan Jemawa Warna Zona Berubah

WARNA Magetan pada peta sebaran Covid-19 berubah dari zona oranye menjadi kuning. Artinya, risiko persebaran korona di kabupaten ini menjadi rendah dari sebelumnya sedang. ‘’Ya, sudah berubah warna, tapi kami kurang tahu sejak kapan. Yang menentukan perubahan adalah pemerintah pusat,’’ kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Magetan Saif Muchlissun Selasa (11/8).

Muchlis, sapaan Saif Muchlissun, enggan jemawa atas perubahan warna zona. Status itu bisa berubah sewaktu-waktu bergantung tingkat kerawanan persebaran Covid-19. Sementara, seberapa besar kerawanan itu pangkalnya dari kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan. ‘’Kalau abai, bisa menjadi oranye, atau malah merah lagi,’’ ujarnya.

Menurut dia, turunnya kerawanan diikuti dengan peningkatan kewaspadaan. Zona berubah menjadi hijau adalah targetnya. Di sisi lain, zona kuning bukan berarti kehidupan kembali seperti sebelum ada pandemi. ‘’Protokol kesehatan tetap harus dilaksanakan sampai antivirusnya ditemukan,” ucapnya. (bel/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close