Tak Punya Solusi, Sekolah Seberangi Sungai

86

MADIUN – Daripada harus memutar, Painem akhirnya pilih menyeberangi sungai dekat rumahnya. Seolah tak menghiraukan bahaya, kebiasaan mengantar ke sekolah dengan cara manual itu sudah dilakoni sejak anak pertamanya. Begitu pula, saat mengantarkan anak bungsunya ke taman kanak-kanak. Berjarak 300 meter dari rumah. Selepas jembatan darurat yang baru setahun dibangun itu ambrol diempas derasnya arus seiring banjir pekan lalu.

Warga RT 9 RW 1, Klumutan, Saradan, itu tidak lantas mengeluh. Dia justru bersyukur pernah difasilitasi jembatan darurat oleh pemerintah desa (pemdes) setempat. Meskipun kini sudah tak berfungsi lagi. ‘’Sejak dulu sudah terbiasa menyeberang lewat sungai,’’ katanya.

Meski darurat, jembatan yang baru dibangun setahun lalu itu sangat vital. Menjadi sarana penghubung warga menuju sekolah dan pasar. Hanya jembatan itu yang membuat akses warga semakin dekat. Khususnya, bagi warga Dusun Padasan dan Brang Lor. ‘’Sekarang sudah tak bisa dilewati dan harus kembali turun ke sungai,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Kades Klumutan Agus Rokamanto belum dapat berbuat banyak atas kerusakan jembatan darurat tersebut. Solusi apa yang diberikan ke depan, masih perlu dibicarakan dengan pihak-pihak terkait. ‘’Di desa ini tak hanya jembatan itu saja yang rusak. Ada satu jembatan lagi yang diterjang banjir. Kerangkanya masih utuh, tapi sudah bengkok,’’ terangnya. (mg4/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here