Magetan

Tak Mau Difoto Vulgar

PERTEMUAN Riska Aprilia dengan kamera bermula tak sengaja. Ajakan dari kenalannya yang seorang fotografer mengantarnya menjadi model. Berpose dan memasang raut cantik saat sesi pemotretan kini menjadi kesehariannya. ‘’Mulai benar-benar terjun ke dunia model sejak 2015,’’ kata Riska.

Sejak itu, perempuan 27 tahun tersebut lekat dengan kamera. Ajakan beberapa temannya yang fotografer terus mengalir. Kendati begitu, Riska enggan menyebut nominal terkait upahnya tiap kali dijepret. ‘’Senang aja foto-foto seperti itu. Belajar otodidak. Wulandari Herman yang paling sering jadi referensi saya,’’ ujarnya.

Lambat laun, Riska merambah event pemotretan. Keuletannya dalam mendalami tema pemotretan menjadi kunci keberhasilan. ‘’Ngalir saja menjalaninya. Di samping suka difoto, bisa sekalian liburan pas ada event di suatu daerah,’’ tutur warga Desa/Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, tersebut.

Riska mengaku menjalani pekerjaannya sebagai model dengan senang hati. Meski demikian, tidak semua tawaran pemotretan dia terima. Terutama tawaran pemotretan yang kelewat vulgar. ‘’Ada benarnya jika dilihat dari sudut pandang tuntutan profesi. Tapi, ya jangan sampai kelewatan,’’ ucap perempuan yang bekerja tetap sebagai teller sebuah bank tersebut. (mg8/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close