Magetan

Tak Laik Jalan, DPUPR Sewa Truk Angkut Aspal, BPBD Pinjam PDAM

Nasib mobil-mobil operasional sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Magetan memprihatinkan. Banyak kendaraan yang sudah rusak dan tidak bisa digunakan. Anggaran ratusan juta, bahkan miliaran rupiah seakan terbuang sia-sia.

—————————

MAGETAN – Tanaman merambat tumbuh di antara semak belukar yang berada di halaman belakang kantor DPUPR Magetan. Saking lebatnya, tanaman menjalar itu sampai menutupi tiga dump truk berkelir kuning milik dinas tersebut.

Menandakan ketiga kendaraan operasional yang sebelumnya sering dipakai untuk mengangkut aspal hotmix itu lama tak digunakan. ‘’(kendaraan operasional) itu sudah tidak bisa diperbaiki,’’ kata Sekretaris DPUPR Magetan, Muchtar Wahid sambil menunjukkan lokasi keberadaan truk itu diparkir.

Karena sudah rusak dan seluruh mesinnya soak, lanjut Muchtar, tentu berdampak pada operasional dinas. Kondisi itu memaksa pihaknya harus mengalokasikan anggaran setiap tahunnya dalam APBD untuk pos belanja sewa truk. ‘’Karena nyaris setiap waktu ada kegiatan tambal sulam jalan rusak,’’ ungkapnya.

Pihaknya mengaku sengaja tidak membeli kendaraan operasional baru tahun ini. Karena kepentingannya dianggap tidak mendesak. Sementara, jika harus membeli baru butuh waktu. Serta mesti perlu disiapkan alokasi anggaran pemeliharaan kendaraan operasional tiap tahunnya. ‘’Untuk beli armada prosesnya panjang, apalagi saat ditetapkan sebagai aset. Harus melibatkan BPPKAD,’’ jelas Muchtar.

Persoalan nyaris serupa juga dialami oleh BPBD Magetan. Untuk kegiatan droping air bersih, ternyata mereka bergantung pada kendaraan operasional PDAM. Karena BPBD hanya memiliki satu unit truk tangki. Sementara, jangkauan pengiriman air bersih mencakup beberapa desa di dua wilayah kecamatan. Yakni, Parang dan Karas.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan Fery Yoga Saputra mengatakan, pihaknya bahkan sampai harus meminta persetujuan ke PDAM untuk menanggung biaya operasional pengiriman air bersih ke wilayah tertentu. Sementara pada tahun lalu, pihaknya meminjam armada milik dinas sosial (dinsos) untuk droping air bersih. ‘’Kalau kerjasama dengan PDAM, air dicukupi langsung dari mereka,’’ terangnya.

Kondisi lebih baik dilakoni oleh Satpol PP dan Damkar Magetan. Mereka masih mempunyai satu unit mobil PMK yang dapat beroperasi. Hanya usia kendaraan itu sudah uzur. Yakni, buatan tahun 1983. ‘’Kalau armada lain sudah mencukupi, yang ini tidak digunakan karena sering mogok,’’ terang Kepala UPT Pemadam Kebakaran Wawang Antarikso kemarin.

Dia menambahkan, tahun lalu pihaknya sudah mendapatkan tangki portable untuk menunjang tiga alat semprot yang ada. Sedangkan, tahun ini pihaknya belum perlu menambah ulang. ‘’Kreativitas kami maksimalkan, karena keterbatasan anggaran ini,’’ ujarnya.

Sementara itu, satu unit mobil operasional yang sering dipakai menyirami oleh disperkim juga kedapatan sering mogok. Selain karena mesinnya sudah usang, unit barang itu merupakan pengadaan lama. ‘’Kami sudah ajukan penambahan dua unit truk untuk kegiatan siram-siram taman pada perubahan anggaran keuangan (PAK) 2019,’’ ungkap Plt Kepala Disperkim Magetan, Mujiono.

Keterbatasan kendaraan operasional juga dialami Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Saat ini, hanya ada sembilan truk yang beroperasi untuk mengangkut sampah. Sebagian sudah usang. Jangkauannya juga terbatas. Tidak sampai menyeluruh di wilayah Magetan. ‘’Masih belum menyeluruh mengambil timbunan sampah,’’ jelas Kepala DLH Magetan, Saif Muchlissun.

Untuk menunjang pelayanan, DLH mengajukan penambahan armada baru tahun ini. Tetapi, pengadan unit kendaraan dengan menggunakan dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp 411 juta itu gagal. Sehingga, harus dilelang ulang. ‘’Sebenarnya hanya satu unit, tapi sangat berguna nanti untuk menunjang pelayanan,’’ ungkap Muchlis. (bel/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close