Ponorogo

Tak Kooperatif, Seorang PDP Meninggal

Pulang dari Surabaya dalam Kondisi Sakit

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Seorang pasien dalam pengawasan (PDP) meninggal dunia Minggu lalu (14/6). Laki-laki berusia 30 tahun, warga Sooko, tersebut pulang dari Surabaya 10 Juni lalu. Hasil pemeriksaan, dia juga mengidap penyakit bawaan. ‘’Sempat tidak kooperatif, menolak diperiksa dan ingin pulang ke Sooko,’’ kata Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni Senin (15/6).

Ipong mengungkapkan, PDP itu pulang naik bus 10 Juni lalu dalam kondisi sakit. Saat di rumah, dia dijemput satgas penanggulangan Covid-19 desa. Diperiksakan ke RSU Aisyiyah (RSUA). ‘’Tapi, sampai RSUA pasien tidak kooperatif, menolak diperiksa kesehatannya dan memaksa pulang,’’ bebernya.

Padahal, kondisi rumah PDP tersebut tidak memungkinkan. Satgas lantas mengalihkan pasien itu ke fasilitas isolasi desa setempat. Keesokannya, sakit PDP tersebut makin parah. ‘’Pasien sesak napas, puskesmas memotivasi untuk dirujuk ke rumah sakit. Tapi minta pulang, ingin bertemu orang tua,’’ lanjut bupati.

Akhirnya, pasien dirujuk ke RS Darmayu. Di rumah sakit swasta itu dia di-rapid test. Hasilnya nonreaktif. Namun, hasil rontgen menunjukkan mengidap pneumonia bilateral. Hasil laboratorium juga menunjukkan indikasi gagal ginjal. ‘’Sudah dua kali di-swab pada 12 dan 13 Juni. Tapi, sampai hari ini hasilnya belum keluar,’’ ujarnya.

PDP itu akhirnya meninggal. Atas kejadian tersebut, Ipong mengimbau masyarakat Ponorogo, terutama yang sedang sakit, untuk jujur dan kooperatif saat diperiksa kesehatannya. ‘’Untuk masyarakat di luar kota dan sakit, sebaiknya tidak pulang dulu sampai benar-benar sembuh. Ini penting untuk memutus mata rantai penularan Covid-19,’’ tegasnya. (naz/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close