Tak Bisa Tidur Nyenyak karena Klakson Bus

17
TUGAS MULIA: Ratna bertugas sebagai PSC Dinkes Pacitan di terminal bus selama libur lebaran.

Sebagai petugas kesehatan membuat Ratna Dwi Pratiwi harus pandai- membagi waktunya antara tugas dan keluarga. Apalagi dia tergabung dalam  Public Safety Ce

Sebagai petugas kesehatan membuat Ratna Dwi Pratiwi harus pandai- membagi waktunya antara tugas dan keluarga. Apalagi dia tergabung dalam  Public Safety Center Dinkes Pacitan selama arus mudik dan balik Lebaran.

—————

SUGENG DWI, Pacitan

JARUM jam menunjuk pukul 02.00 dini hari. Beberapa penumpang berkerumun di pos kesehatan Terminal Bus Tipe A Pacitan. Mata Ratna Dwi Pratiwi satu menahan kantuk. Tak ingin mengecewakan para pemudik, satu per satu pasien itu dilayani untuk diperiksa kondisi kesehatannya. Mulai tekanan darah hingga keluhan pening setelah menempuh perjalanan panjang. ‘’Kebanyakan mengeluh mual dan mabuk perjalanan, ada juga yang kelelahan,’’ tutur Ratna, petugas Public Safety Center (PSC) Dinkes Pacitan ini.

Hampir dua pekan penuh hari-hari Ratna diisi dengan berjaga di pos kesehatan terminal. Bersama beberapa rekannya, mereka bergantian memantau para pemudik yang sakit. Tak hanya pemudik, kerja hampir 24 jam sehari membuat beberapa petugas terminal dan polisi pun kelelahan. ‘’Saya juga sempat ngedrop, kecapekan. Padahal saya petugas kesehatan,’’ seloroh warga Dusun Saren, Desa/Kecamatan Bandar, ini.

Banyaknya warga yang memeriksakan kondisi kesehatan membuat Ratna nyaris kehilangan waktu istirahat. Berbagi  jadwal jaga dengan rekan satu sif, justru membuat lulusan Poltekes RS Soepraoen Kesdam 5 Brawijaya, Malang, itu tak bisa tidur nyenyak lantaran suara bising kendaraan dan aktivitas di terminal. ‘’Kalau pas gak terlalu ramai sebenarnya bisa gantian jaga. Tapi pas dapat giliran istirahat terminal justru ramai. Banyak kendaraan yang membunyikan klakson,’’ kata Duta Pariwisata Pacitan 2016 ini.

Bertugas saat arus mudik dan balik Lebaran menuntut gadis kelahiran 1 Maret 1997 itu pandai membagi waktu bersama keluarga. Terlebih saat Idul Fitri, momen berkumpul dengan sanak famili. Ketatnya jadwal bertugas menuntut pandai memilih waktu pulang ke rumah. Terlebih jarak antara Pacitan dan Bandar lumayan jauh dan harus melewati perbukitan. ‘’Waktu Lebaran saya hanya pulang pagi hari. Cuma sempat Salat Ied di kampung dan kumpul keluarga sebentar. Siangnya jaga di pos kesahatan lagi,’’ ujar putri kedua pasangan Supriyadi dan Narti ini.

Meski begitu tak ada keluh kesah apalagi protes dari Ratna. Sebaliknya keluarga justru mendukung aktivitas dilakoni putrinya. Jadwal mudik yang sempat direncakan jauh hari harus diubah lantaran sang putri tak bisa hadir. ‘’Untungnya tahun ini banyak keluarga yang pulang ke Bandar. Alhamdulilah masih bisa ketemu saudara,’’ ucapnya.*** (sat)

nter Dinkes Pacitan selama arus mudik dan balik Lebaran.

—————

SUGENG DWI, Pacitan

JARUM jam menunjuk pukul 02.00 dini hari. Beberapa penumpang berkerumun di pos kesehatan Terminal Bus Tipe A Pacitan. Mata Ratna Dwi Pratiwi satu menahan kantuk. Tak ingin mengecewakan para pemudik, satu per satu pasien itu dilayani untuk diperiksa kondisi kesehatannya. Mulai tekanan darah hingga keluhan pening setelah menempuh perjalanan panjang. ‘’Kebanyakan mengeluh mual dan mabuk perjalanan, ada juga yang kelelahan,’’ tutur Ratna, petugas Public Safety Center (PSC) Dinkes Pacitan ini.

Hampir dua pekan penuh hari-hari Ratna diisi dengan berjaga di pos kesehatan terminal. Bersama beberapa rekannya, mereka bergantian memantau para pemudik yang sakit. Tak hanya pemudik, kerja hampir 24 jam sehari membuat beberapa petugas terminal dan polisi pun kelelahan. ‘’Saya juga sempat ngedrop, kecapekan. Padahal saya petugas kesehatan,’’ seloroh warga Dusun Saren, Desa/Kecamatan Bandar, ini.

Banyaknya warga yang memeriksakan kondisi kesehatan membuat Ratna nyaris kehilangan waktu istirahat. Berbagi  jadwal jaga dengan rekan satu sif, justru membuat lulusan Poltekes RS Soepraoen Kesdam 5 Brawijaya, Malang, itu tak bisa tidur nyenyak lantaran suara bising kendaraan dan aktivitas di terminal. ‘’Kalau pas gak terlalu ramai sebenarnya bisa gantian jaga. Tapi pas dapat giliran istirahat terminal justru ramai. Banyak kendaraan yang membunyikan klakson,’’ kata Duta Pariwisata Pacitan 2016 ini.

Bertugas saat arus mudik dan balik Lebaran menuntut gadis kelahiran 1 Maret 1997 itu pandai membagi waktu bersama keluarga. Terlebih saat Idul Fitri, momen berkumpul dengan sanak famili. Ketatnya jadwal bertugas menuntut pandai memilih waktu pulang ke rumah. Terlebih jarak antara Pacitan dan Bandar lumayan jauh dan harus melewati perbukitan. ‘’Waktu Lebaran saya hanya pulang pagi hari. Cuma sempat Salat Ied di kampung dan kumpul keluarga sebentar. Siangnya jaga di pos kesahatan lagi,’’ ujar putri kedua pasangan Supriyadi dan Narti ini.

Meski begitu tak ada keluh kesah apalagi protes dari Ratna. Sebaliknya keluarga justru mendukung aktivitas dilakoni putrinya. Jadwal mudik yang sempat direncakan jauh hari harus diubah lantaran sang putri tak bisa hadir. ‘’Untungnya tahun ini banyak keluarga yang pulang ke Bandar. Alhamdulilah masih bisa ketemu saudara,’’ ucapnya.*** (sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here