Tak Ada Kiamat, Tiga Tahun Kemarau Panjang

345

PONOROGO – Rupanya, tidak hanya warga di Watu Bonang, Badegan, yang hijrah ke Malang. Dua keluarga terdiri enam jiwa di Semanding, Kauman, turut hijrah ke Malang. Bahkan satu keluarga menyuruh anaknya resign dari salah satu perusahaan milik BUMN. ‘’Dua KK itu berangkat sejak Sabtu (2/3),’’ kata Wahyudi, kaur trantib Semanding.

Jagabaya itu juga menyebut, satu KK di antaranya menjual tiga ekor sapi lantaran tidak ada yang merawat saat ditinggal. Hasil penjualan ternaknya untuk mencukupi biaya hidup selama menuntut ilmu di Malang. ‘’Dijual berapa harganya, kami kurang begitu paham,’’ ujarnya.

Satu KK lain yang terdiri dari empat orang telah menjual pekarangan belakang rumah. Berbeda dengan 16 KK di Desa Watu Bonang yang pergi tanpa pamit, warga Semanding itu sempat pamitan ke lingkungan. ‘’Juga menitipkan kegiatan keagamaan di musala,’’ lanjut Wahyudi.

Dia tetap menyayangkan lantaran yang bersangkutan tidak memberitahukan kepergiannya ke pihak berwenang. Mulai tingkat RT hingga kepala desa. Pihaknya belum mengetahui secara pasti alasan hijrah. ‘’Kalau ada doktrin tentang kiamat itu rasanya terlalu berlebihan. Karena saya tanya ke yang gak jadi berangkat, enggak ada ajaran seperti itu,’’ tuturnya.

Wahyudi menegaskan, ada satu warganya yang tidak ikut berangkat. Sebab, tidak memiliki biaya. Berdasarkan pengakuan yang bersangkutan, dia tidak mendapat doktrin tentang kiamat. Hanya, kiai panutannya menuturkan bakal terjadi kemarau panjang di Indonesia selama tiga tahun. ‘’Itu yang diceritakan kepada saya dari yang bersangkutan. Valid langsung dari orangnya,’’ bebernya.

Sekelompok warga yang mendadak hijrah dan sebagian menjual tanah beserta rumahnya diketahui merupakan jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah. Sebagian besar pengikutnya merupakan warga Dusun Krajan, Desa Watu Bonang, Badegan. ‘’Yang berangkat itu biasanya mengadakan kegiatan di musala setiap Rabu dan Sabtu malam,’’ terangnya.

Kemarin sore (13/3), Dandim 0802 Ponorogo Letkol (inf) Made Sandy Agusto mendatangi Desa Watu Bonang. Menelusuri kebenaran doktrin kiamat yang telanjur beredar luas di masyarakat. ‘’Kami sudah ke lokasi. Kami pastikan seluruh ajaran di jamaah itu tidak ada yang menyimpang,’’ kata Made.

Hanya, pihaknya belum dapat memastikan alasan hijrahnya 16 KK atau 52 warga setempat. Alasan pasti sebagian warga menjual tanah dan rumah beserta isi juga belum diketahui. Digunakan sebagai bekal hijrah ke Malang? ‘’Itu yang masih kami selidiki. Kami juga akan bekerja dengan Polri,’’ lanjutnya.

Made pun perlu memastikan puluhan warga yang hijrah dalam keadaan baik. Dalam beberapa hari ke depan, pihaknya bakal melakukan penelusuran lebih lanjut. ‘’Akan kami informasikan setelah mendapat kepastian. Terutama berkaitan dengan isu doktrin kiamat,’’ ungkapnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here