Tahun Politik, Kapolda Berharap Suroan-Suran Agung Ditunda

172

MADIUN – Tahun ini, tradisi Suroan dan Suran Agung terancam tidak bisa digelar dalam skala besar. Sinyal itu diberikan Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin saat berkunjung ke Madiun Jumat lalu (10/8). Tujuannya mengantisipasi potensi gesekan antarorganisasi dan perguruan pencak silat di tahun politik. ‘’Apalagi saat ini kan sudah masuk tahapan pileg dan pilpres,’’ kata Machfud usai menghadiri acara peletakan batu pertama perumahan subsidi anggota Polri di Desa Sidomulyo, Sawahan, Jumat lalu (10/8).

Dia menyebut, pelaksanaannya bisa ditunda tahun depan pascapesta demokrasi tersebut usai. Dia menilai ditiadakannya Suroan dan Suran Agung bukan suatu masalah. Sekalipun itu sudah menjadi sebuah tradisi. Menurutnya, kegiatan tersebut beberapa tahun lalu pernah tidak dilaksanakan. ’’Saya berharap tahun ini juga begitu,” kata jenderal dua bintang di pundak itu.

Namun, jika memang tetap dilaksanakan, kapolda menekankan agar pelaksanaannya berlangsung tertib. Masing-masing perguruan dan organisasi pencak silat bisa mengakomodasi massa agar tidak menimbulkan gesekan yang bisa membuat panas situasi. Sebab, Machfud menyebut kondisi keamanan Jawa Timur di tahun politik ini relatif aman dan kondusif. Dia tidak ingin pelaksanaan Suroan dan Suran Agung kelak mencederai catatan tersebut. ’’Jadi, harus dijaga bersama-sama,’’ tegasnya.

Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Madiun R. Moerdjoko menyatakan kegiatan Suroan dan Suran Agung tahun ini tidak mungkin ditiadakan. Sebab, kegiatan tersebut merupakan ritual turun-temurun yang tidak bisa ditunda. Pihaknya sudah berkomunikasi dengan Kapolres Madiun Kota Nasrun Pasaribu dan Kapolres Madiun AKBP I Made Agus Prasatya ihwal pelaksanaan hajat tersebut. ’’Kami menyampaikan kalau tetap dilaksanakan,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Moerdjoko mengatakan, yang membedakan kegiatan Suroan dan Suran Agung tahun ini adalah dalam skala kecil. Pihaknya mengajak masing-masing perguruan pencak silat untuk tidak mengerahkan massa dalam jumlah banyak. Pelaksanaannya harus tersebar dan tidak terpusat satu titik. Dia menekankan perguruan pencak silat di daerah tetangga tidak masuk ke Kota Madiun. Sebagai gantinya menggelar kegiatan di daerah masing-masing. Sehingga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif. ’’Kami paham tahun ini hingga 2019 merupakan tahun politik. Jadi, kalau skala besar rawan dibenturkan dengan saudara sendiri,” papar pria yang juga ketua umum Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Parapatan Luhur 2017 tersebut.

Dia menambahkan, pelaksanaan Suroan dan Suran Agung tahun lalu berlangsung aman dan tidak ada gesekan. Pihaknya berjanji ke aparat penegak hukum untuk meningkatkan pelaksanaannya. Salah satu evaluasinya iring-iringan massa di dalam kota menggunakan kendaraan roda empat tertutup. Terlepas dari itu, pihaknya juga berkomitmen mendukung tahapan pilpres dan pileg damai. ‘’Baik di bawah payung IPSI atau paguyuban pencak silat, tetap netral dan tidak terlibat politik praktis,’’ tegasnya. (cor/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here