Tagih Janji, Warga Sukosari Blokade Jalan

282

MADIUN – Bakal kolam pemancingan di Banjarsari Wetan itu menyulut kekecewaan warga Sukosari, tetangga desa di Kecamatan Dagangan. Kemarin (18/3) sejumlah warga menutup akses keluar-masuk dump truck ke lokasi galian. Selain karena pengusaha dinilai ingkar janji, lalu-lalang kendaraan berat merusak infrastruktur jalan dan bangunan. ‘’Tembok rumah sampai retak, tapi sudah diperbaiki,’’ kata Sabar, warga setempat yang rumahnya mepet jalan lokasi galian.

Penutupan di pertigaan akses menuju lokasi tambang bodong itu sekitar pukul 10.00. Memanfaatkan tiga bilah bambu. Satu bilah dipasang melintang di tengah sebagai penyangga. Kertas putih dipaku di tengahnya bertuliskan Galian Ditutup Warga!!!. ‘’Imbasnya merusak jalan dan lingkungan,’’ ujar Sarwoto, ketua RT 13 RW 04 desa itu .

Sarwoto menyebut, blokade dilakukan karena sejumlah alasan. Paling krusial adalah pengusaha tidak menepati janji untuk memperbaiki akses jalan. Setelah menyelesaikan pengerukan lahan untuk proyek kolam pemancingan akhir 2017. Jalan sepanjang sekitar 100 meter yang dulunya makadam itu hancur. Dampak hilir mudik puluhan dump truck setiap harinya. Kondisi jalan yang becek membuat petani tidak nyaman setiap hendak beraktivitas ke sawah. ‘’Janjinya dulu jalan akan dirabat. Tapi, hingga kini tidak ada tanda-tandanya,’’ tutur Sarwoto kepada Radar Mejayan.

Warga meyakini, sebetulnya praktik penggalian lahan sudah selesai sejak lama. Sebab, hasil kerukan kini mencapai belasan meter. Batasan kedalaman yang dipandang tidak wajar untuk skala tempat pemancingan rekreasi. Pun, santer kabar berembus di lingkungan desa, pengerukan berubah menjadi ladang bisnis. Warga lokal bisa membeli satu ritase tanah seharga Rp 150 ribu. Sedangkan Rp 300 ribu untuk warga luar. ‘’Dijual atau dibuang tidak tahu, pastinya tidak tahu,’’ ucapnya.

Alasan lainnya adalah warga waswas dampak galian yang terlampau dalam. Keberadaannya yang tanpa dilengkapi pagar pembatas dinilai membahayakan. Apalagi, jalan setapak yang biasanya untuk melintas petani berjarak kurang dua meter dari bibir galian. Keberadaan galian diduga menyebabkan aliran irigasi untuk padi di dekatnya menjadi tidak lancar. Air mengalir ke galian karena posisinya lebih rendah. ‘’Penutupan sudah sepengetahuan kades (kepala desa Sukosari, Red),’’ ungkap Sarwoto.

Kades Sukosari Kusno mempersilakan warga menutup dan siap menghadapi bila ada protes dari pengusaha. Selain karena dasar, pertemuan itu dimanfaatkan untuk menagih janji. Yakni, memperbaiki jalan sesuai komitmen dalam memorandum of understanding (MoU) sebelum proses pengerukan. ‘’Kami buka kalau perbaikan sudah dilakukan,’’ katanya.

Kusno mengaku tidak tahu soal dugaan kegiatan penambangan tanah uruk berkedok pembangunan kolam pemancingan. Pun kabar hasil kerukan tanahnya dijual ratusan ribu per ritase. Hanya, pihaknya memang sejak awal mendukung rencana pendirian pemancingan meski di lahan desa tetangga. Sebab, mendukung pariwisata dan ekonomi warga. ‘’Warga dulu dikumpulkan. Pengusahanya minta persetujuan sambil menunjukkan site plan kolam pemancingan,’’ ujarnya.

Kades Banjarsari Wetan Samekto belum bisa dimintai keterangan ihwal penggalian bakal kolam pemancingan. Dia menghadiri undangan acara saat hendak didatangi. Pun menolak ketika coba dihubungi lewat sambungan telepon. ‘’Besok saja (hari ini, Red), Mas,’’ katanya singkat lewat pesan WhatsApp. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here