Madiun

Sutrisno Laris Manis Didapuk sebagai Juri Kontes Burung

Tanggapi Protes Peserta yang Kalah dengan Kepala Dingin

Nasib Sutrisno terbilang beruntung. Di saat penjualan burung lewat transaksi konvensional sepi, undangan menjadi juri kontes burung yang mampir kepadanya tidak pernah surut. Bahkan, saat ini Sutrisno memiliki jadwal penuh menjuri dari Senin hingga Minggu.

===================

ASEP SYAEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

SIANG itu Sutrisno tampak duduk santai di sebuah bangku depan kios miliknya di Pasar Srijaya. Sambil menunggu pembeli, pria itu sesekali memberi makan puluhan burung jualannya yang tergantung di sisi kiri kiosnya. Berbeda dengan di kios lainnya, di situ hanya terdapat burung love bird dan kenari.

Sementara, di sudut agak belakang bangunan kios terdapat etalase obat burung. Mulai jenis antibiotik hingga formula yang diklaim bisa membuat burung rajin ngoceh. ”Sekarang dalam sehari tidak pasti ada yang beli burung,’’ katanya.

Di benak Sutrisno, usaha berjualan burung kini tidak bisa diadalkan lagi. Itu menyusul maraknya sistem jual beli online, terutama melalui media sosial (medsos). ‘’Sekarang orang malas transaksi di pasar burung,’’ ujar pria 46 tahun itu.

Beruntung Sutrisno memiliki keterampilan menjadi juri kontes burung. Pun selama ini dia kerap diundang menjadi juri event perburungan di berbagai daerah. Bahkan, saat ini jadwalnya dari Senin hingga Minggu full.

Senin, misalnya, dia menjadi juri di Josenan. Sedangkan Selasa di Sendangrejo, Rabu di gantangan Madya Sari, Kamis di pasar burung, Jumat di Jalan Margobawero. Sementara, Sabtu di Pasar Besar Madiun dan Tempursari. ”Hari Minggu biasanya jadi juri di event besar,’’ ungkapnya.

Sutrisno hobi memelihara burung sejak 1993 silam saat masih bekerja di sebuah bank pelat merah di Bontang, Kalimantan Timur. ”Pada tahun 2000 saya memutuskan pulang ke Jawa dan memilih membuka kios burung di Pasar Joyo (sebutan Pasar Srijaya, Kota Madiun, Red),’’ tuturnya.

Tiga tahun menekuni usaha jual beli burung, pada 2003 Sutrisno mengikuti diklat juri nasional kontes burung. Tidak butuh waktu lama, setelah lulus diklat dia diakui sebagai juri profesional. ”Sebenarnya banyak tawaran jadi juri di Kalimantan dan Sumatera, tapi karena jauh dan masih mempunyai peliharaan burung, terpaksa saya tolak,’’ jelasnya.

Sutrisno memiliki skill menilai kualitas kicauan berbagai jenis burung. Mulai kenari, murai batu, kacer, love bird, hingga cucak ijo. ”Biasanya juri hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit untuk menilai burung mana yang pantas jadi juara,’’ ujar pria yang kini tinggal di Kelurahan Kanigoro itu.

Sutrisno memiliki pakem tersendiri dalam menilai kualitas burung saat diperlombakan. Setidaknya mengacu lima komponen. Yakni, power suara, varian lagu, stabilitas dalam berkicau, gaya burung saat berkicau, dan terakhir fisik burung. ‘’Kalau misalnya bulunya brodhol, nilainya ya tidak sempurna,’’ terangnya.

Meski telah diakui sebagai juri profesional yang memiliki jam terbang tinggi, bukan berarti Sutrisno terbebas dari komplain peserta yang kalah. Beberapa kali dia mendapat protes kontestan. Bahkan, tak sedikit yang marah-marah.

Meski begitu, Sutrisno memilih menyelesaikan dengan kepala dingin. Menjelaskan kelemahan burung peserta tersebut dan kelebihan burung yang dinyatakan sebagai juara. ”Kebanyakan mereka hanya fokus pada burungnya sendiri, tanpa melihat burung peserta lain,’’ katanya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close