Surat: Dulu Jadi Wartawan Itu Berat

110

NGAWI – Seketika, Surat Ashari menghentikan ceritanya. Dia langsung berdiri dan berlalu meninggalkan wartawan koran ini di ruang tamu yang lumayan luas. Namun, tak berapa lama pemilik rumah di Jalan Kartini 10 C, Ngawi, itu keluar lagi dengan menenteng sebuah benda yang masih terbungkus poket kecil warna hitam sudah agak kusam. Tanpa kode maupun aba-aba, Surat langsung mengeluarkan isi dari poket hitam tersebut. Ternyata isinya sebuah kamera merek Ricoh.

Dilihat dari bentuknya hampir sama dengan kamera DSLR lain produk masa kini. Hanya saja lebih kecil dan bahannya lebih banyak menggunakan logam. Sehingga terasa lebih berat ketika diangkat. Meski kondisinya rusak, namun kamera itu masih terus disimpan oleh Surat. Katanya, benda itu merupakan kenangan waktu masih bekerja sebagai wartawan di Surabaya Post dulu. ’’Ini saya simpan sebagai barang antik, teman kerja saya dulu waktu jadi wartawan,’’ kata Surat sedikit menjelaskan soal benda yang kini kian beragam jenisnya itu.

Sekarang Surat memang sudah tidak lagi bekerja sebagai wartawan. Profesinya berganti menjadi advokat atau pengacara. Warga asli Desa Mojorejo, Kecamatan Wates, Blitar, itu meninggalkan pekerjaannya sebagai kuli tinta pada 2003 silam. Sebelumnya,  dia seorang wartawan koran Suara Indonesia yang berpusat di Malang, Jawa Timur. Perjalanan karirnya di dunia jurnalistik bermula sekitar 1987 silam. ’’Tapi nggak lama saya di Suara Indonesia,’’ ujarnya sembari menyebut tahun itu pertama kalinya masuk di Ngawi.

Setelah keluar dari Suara Indonesia, Surat akhirnya bergabung dengan media asal Surabaya, yakni Surabaya Post. Kebetulan ada salah seorang temannya yang menyarankan. Sejak saat itu, pada 1987, Surat resmi menjadi wartawan koran harian yang terbit sore hari itu. Karirnya baru berhenti ketika perusahaannya mengalami pailit pada 2003 lalu. Sejak saat itu, Surat sudah tidak lagi bergelut dengan dunia media hingga sekarang. ’’Keluar dari wartawan langsung diterima sebagai ketua KPU Ngawi dua periode, 2003 hingga 2014,’’ terangnya.

Bicara soal media, Surat masih ingat betul bagaimana dulu susahnya menjadi seorang jurnalis. Jika dibandingkan dengan sekarang, jauh berbeda. Baik dari sisi apa pun, sekarang jauh lebih mudah. Mulai proses liputan mencari berita, proses pembuatannya, pengiriman, hingga mengedarkannya, semua sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat. ’’Lain dulu, lain sekarang. Karena semuanya juga sudah mengalami perkembangan yang pesat,’’ ungkapnya.

Dulu seorang wartawan ketika ingin memastikan kebenaran sebuah berita harus turun langsung ke lapangan. Di mana pun lokasinya, wartawan harus datang langsung untuk mengecek berita. Tentu itu bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi ketika era 1980-an di mana alat transportasi tak semaju sekarang. Apalagi alat komunikasi, belum ada handphone seperti sekarang. Yang ada hanya telepon, itu pun masih sangat jarang. ’’Kalau informasinya benar tidak apa-apa, bisa jadi berita. Kalau ternyata tidak ada (peristiwa, Red), bagaimana?,’’ ujarnya.

Bagi wartawan di era saat itu mungkin semua pernah mengalami. Termasuk Surat sendiri. Pernah suatu ketika Surat mendapat informasi peristiwa di Kecamatan Sine. Jaraknya dari Ngawi sekitar 40 kilometer. Mau tidak mau Surat harus mengeceknya langsung ke lokasi. Setelah dicek, ternyata kabar tersebut tidak benar. Itu pun tidak mudah. Jika tidak ada sepeda motor, terpaksa harus naik sepeda ontel. ‘’Itu sudah biasa, makanya dulu itu berat sekali jadi wartawan, nggak seperti sekarang,’’ tuturnya.

Belum lagi sikap masyarakat kala itu yang masih apatis terhadap media. Tidak semua orang yang bisa dijadikan narasumber. Kebanyakan memilih menutup diri. Apalagi di era sebelum kebebasan pers tahun 1999 ke bawah. Sekarang orang justru banyak mencari media. Entah untuk memublikasikan dirinya atau mengiklankan usahanya. ’’Kalau dulu nggak ada yang begitu,’’ ujarnya.

Perkembangan teknologi juga memengaruhi proses produksi berita. Dulu, ketika belum ada internet dan komputer, semua dikerjakan manual. Pengetikan berita menggunakan mesin ketik manual. Sedangkan untuk pengirimannya melalui kantor pos, sebelum ada mesin faksimile ada. Begitu juga untuk mengirim foto berita. Tidak heran jika dulu prosesnya bisa memakan waktu cukup lama. ‘’Waktu saya dulu targetnya sehari hanya satu berita, itu pun kadang nggak kirim kalau lagi kurang fit,’’ ungkapnya.

Meski hanya satu berita, itu bisa memakan waktu satu hari. Pagi untuk liputan berita, siangnya untuk menulis naskahnya, lalu sore maksimal pukul 03.00 harus sudah dikirim ke Surabaya. Pastinya tidak melalui email, tapi surat manual. Perusahaan tempat Surat bekerja sebenarnya koran sore, tapi sampai di Ngawi koran Surabaya Post biasanya sudah malam. ’’Edarnya ya pasti pagi. Memang kalah dengan koran harian pagi saat itu,’’ kenangnya.

Beruntung waktu itu persaingan dunia media masih belum begitu ketat seperti sekarang. Zaman Surat dulu, media massa di Ngawi yang cetak hanya ada tiga koran. Selain Surabaya Post, ada juga Jawa Pos dan Surya. Untuk majalah ada Joyoboyo, Panjebar Semangat, dan Tempo. Media elektronik yang ada hanya radio. Itu pun tidak memublikasikan berita peristiwa, hanya khusus informasi pemerintahan.

Sebelum ada kebebasan pers di Indonesia, dulu perbedaan yang paling kentara lebih banyak dari sikap pemerintah. Dulu pemerintah cenderung tertutup kepada media. Begitu juga dengan masyarakat, ada sebagian yang juga tertutup kepada media. Sekarang, semuanya sudah serbagampang. Apalagi era sekarang sudah masuk digital. Tentu hal itu menjadi kemudahan bagi para wartawan saat ini. ’’Saya sangat mengapresiasinya, semoga ini menjadi semangat untuk pers ke depan yang lebih baik,’’ ucapnya. (tif/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here