Pacitan

Suramin Mengajak Warga Menjelajahi Gua Gong

Di balik ketenaran wisata Gua Gong, terselip nama Suramin. Kakek 81 tahun ini mengajak warga lainnya melakukan penjelajahan 1995 silam. Bermodal pesan bapaknya, Noyo Semito, 47 tahun sebelumnya.

———————— 

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

DI tengah lalu lalang kendaraan, Suramin duduk santai di teras rumah. Menyaksikan keluar masuk mobil dari tempat parkir wisata Gua Gong di Dusun Pule, Bomo, Punung, Pacitan. Warga setempat mengenal kakek 81 tahun itu sebagai penjelajah gua yang kini menjadi salah satu wisata andalannya kabupaten ini. ‘’Dulu susah air, listrik belum ada. Sekarang banyak warga sekitar sini punya mobil,’’ kata Suramin menyebut perubahan lingkungannya sebelum dan sesudah gua dikunjungi wisatawan.

Suramin mengetahui keberadaan Gua Gong dari bapaknya, Noyo Semito, 1948 silam. Lokasinya satu kilometer ke barat dari tempat tinggalnya. Pesan yang disampaikan sang ayah, dia diminta mendatangi gua. Sebab, diyakini bakal membuat perubahan hidup. Karena masih berusia 10 tahun, Suramin tidak peduli. Namun, wejangan itu tetap disimpan rapat. Tak dibocorkan kepada siapa pun hingga 47 tahun lamanya. ‘’Pencarian gua yang dimaksud Bapak dilakukan saat Lebaran 1995,’’ ujarnya.

Awalnya, Suramin meneruskan informasi bapaknya itu kepada Wakino. Anak keduanya itu langsung mencari seorang diri. Padahal, cerita yang disampaikan belum tuntas. Bapaknya sempat menyebut pintu gua di bawah pohon kluwih yang ditutup tumpukan batu. Alhasil, anaknya kesulitan menemukan lokasinya. Suramin lantas mengajak tiga tetangganya untuk melakukan pencarian. ‘’Apa yang disampaikan Bapak berhasil ditemukan. Tapi, lubangnya kecil sekali setelah tumpukan batu dibongkar,’’ kenang suami Jumi itu.

Suramin orang pertama yang merayap masuk ke dalam gua lewat lubang itu. Sebelum akhirnya disusul Wakino dan tiga warga lain. Seorang di antaranya menyalakan korek api sebagai pencahayaan karena ruangan sangat gelap. Remang cahaya membuat mata mereka terbelalak. Stalaktit dan stalagmit menghiasi dinding gua tersebut. ‘’Penemuan gua itu disampaikan ke warga lainnya,’’ tutur kakek delapan cucu dari dua anaknya tersebut.

Warga pun berbondong-bondong datang membawa obor, lampu petromaks, dan senter. Delapan orang memberanikan diri menelusuri gua lebih dalam. Hasilnya, sumber air melimpah berhasil ditemukan. Girang bukan kepalang hingga mereka memutuskan untuk segera mengabarkan kepada warga. Namun, persoalan datang ketika hendak pulang. Mereka kesulitan menemukan jalan keluar. ‘’Beberapa ada yang menangis karena takut tidak bisa keluar selamanya. Apalagi kondisi badan sudah lemas,’’ terang Suramin.

Tim penjelajah berputar-putar dalam gua selama delapan jam. Sebelum akhirnya bisa keluar dengan modal intuisi salah seorang warga. ‘’Malam itu juga warga kerja bakti membersihkan rimbunan tanaman. Keesokannya, temuan gua itu jadi bahan obrolan rumah dan warung,’’ paparnya.

Noyo, sang ayah, tidak sengaja menemukan gua bersama temannya, Joyo Rejo, pada musim kemarau 1924 silam. Karena kesulitan air bersih, keduanya mencari sumber air hingga perbukitan Gong-gongan, dusun setempat. Keberadaan gua sengaja disembunyikan sebagai tempat persembunyian dari penjajah. ‘’Bapak sering cerita, tapi saya sempat tidak percaya,’’ kata Suramin.

Gaung Gua Gong terdengar sampai telinga orang asing. Kunjungan wisatawan berdampak pada mobilitas warga sekitar. Kesulitan air bisa teratasi. Selang beberapa tahun setelah penemuan gua, listrik masuk desa. ‘’Namanya Gua Gong karena lokasinya di Bukit Gong-gongan,’’ katanya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close