Magetan

Sungai Desa Sempol Tercemar Limbah PG Poerwodadie?

MAOSPATI – Polemik seputar limbah pabrik gula (PG) yang mencemari sungai di daerah tetangga, ternyata juga terjadi di wilayah Magetan. Tepatnya di Desa Sempol, Maospati. Sungai atau saluran air yang mengalir di desa setempat diduga tercemar limbah produksi PG Poerwodadie di Desa Mantren, Karangrejo.

Para pengguna jalan terpaksa harus menutup hidung saat melintasi Jalan Maospati-Barat. Itu lantaran bau tak sedap merebak dari saluran irigasi di perbatasan Desa Sempol dan Banjarejo, Barat. Sejatinya, kondisi itu sudah menahun. Terutama, saat musim giling PG. ‘’Sudah cukup lama. Gak tahan sama baunya,’’ kata Supardi, salah seorang petani setempat, Selasa (14/8).

Selain berbau tak sedap, warna air juga kehitaman. Namun, Supardi tidak tahu pasti jenis limbah yang mengalir di saluran irigasi hingga ke sungai di Kecamatan Barat tersebut. Bau itu memang hanya merebak di tapal batas utara Desa Sempol. ‘’Takutnya limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya, Red),’’ ujarnya waswas.

Karena itu, dia berharap Pemkab Magetan segera mengambil tindakan. Kalaupun memang tidak mengandung limbah B3, dia juga berharap pembuang limbah mengolahnya lebih dulu agar tidak terlalu berbau busuk. Apalagi jalan tersebut tergolong ramai yang melintas. ‘’Biar tidak mengganggu pengguna jalan,’’ harapnya.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Magetan Sumarwidi mengatakan memang belum mengecek langsung ke lokasi. Namun, berdasar pengalamannya, kemungkinan  PG menghasilkan limbah B3 sangat kecil. Mengingat itu hanya sisa air rebusan tebu. ‘’Tapi, tetap harus dicek dulu melalui uji laboratorium,’’ ujarnya ragu.

Sungai kecil atau kanal yang diduga tercemari limbah PG itu juga mengalir sampai Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Karangrejo. Tepatnya di pinggir Jalan Raya Ngawi-Maospati. ‘’Tapi tidak berbau menyengat. Karena biasanya membuangnya dini hari,’’ kata Suharti, salah seorang warga Karangrejo.

Dia menyebut kondisi itu terjadi setiap musim giling. Hanya, bau yang disebut mirip jagung rebus itu tak membuat warga setempat terganggu. Sebagian dari mereka menganggap itu sudah biasa. Bau itu akan hilang ketika musim giling berakhir. Musim giling biasa berlangsung sekitar empat bulan dalam setahun.

Petani setempat juga tetap memanfaatkan untuk mengairi sawah mereka. Air tersebut mengalir sampai perbatasan Magetan-Ngawi. Hanya tak sekeruh yang mengalir di Desa Sempol. Di Kelurahan Karangrejo cukup jernih. ‘’Di sini, sepanjang tahun airnya begitu-begitu saja. Gak ada masalah,’’ katanya.

Terpisah, Kasubag SDM dan Umum PG Poerwodadie Agus Tjahjono tidak membantah limbah cairnya mengalir hingga daerah Karangrejo tidak terlalu menyengat baunya. Hanya mirip jagung rebus. ‘’Limbah kami memang tidak terlalu parah,’’ katanya singkat tanpa mau mengomentari aliran di Desa Sempol. (mg4/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close