Suksesnya Pesta Demokrasi Kita Berkat Perjuangan Mereka

30

PONOROGO – Getir, pahit, haru bercampur bangga bercampur di dada para petugas pemilihan umum (pemilu). Tak lelah berjuang mendistribusikan logistik di kawasan pelosok hingga menghitung suara sampai pagi buta. Merekalah pahlawan demokrasi yang sebenarnya.

Televisi di sejumlah warung kopi menayangkan acara yang memberitakan pelaksanaan Pemilu. Ekspresi penontonnya beragam. Ada yang bangga dan kecewa. Namun, mereka masih guyub bercengkerama di satu atap warung. Jarum jam menunjuk dua belas  malam. Sementara di TPS yang ada di sudut kota masih ramai. Dengan wajah letih, para petugas masih sibuk dengan tugasnya masing-masing. Penghitungan masih menyisakan satu kotak suara lagi. ‘’Vitamin datang,’’ teriak seseorang yang datang membawakan makanan dan minuman ringan. Semangat kembali terpompa.

Letih tak terkira bertugas di tempat pemungutan suara. Karin Amelinda Ekasari, PPS di Keniten, Ponorogo mengaku berangkat sejak pagi dan belum pulang sampai pagi lagi. ‘’Untuk memastikan seluruh tempat coblosan, saya berangkat sebelum pukul enam pagi,’’ tukasnya.

Semarak pesta demokrasi telah usai. Bulir keringat petugas bersama-sama mewujudkan pemilu yang lancar, damai dan bersih tak akan terlupa. Hampir seluruh petugas di tingkat PPS dan TPS baru tidur nyenyak saat hari berganti pagi lagi. Di Kelurahan Keniten, tiap TPS baru bisa menyelesaikan penghitungan suara pada dini hari. Itu pun masih berlanjut mencatat dokumen hingga pagi hari. ‘’Belum tidur, lanjut ngurusi rekapan dan pencatatan dokumen, mengirimkan kotak suara, surat suara ke tingkat kecamatan,’’ lanjutnya.

Karin tidak sendirian. Hampir seluruh petugas di daerah setempat mengalaminya. Meskipun capek, dia tetap bangga dapat membantu kelancaran pesta demokrasi. Apalagi, petugas harus teliti betul agar tidak terjadi kecurangan yang menodai proses demokrasi. ‘’Saya baru tidur siang tadi sehabis duhur. Setelah itu lanjut mengasuh anak,’’ ungkapnya.

Cerita penuh perjuangan juga dirasakan petugas kepolisian saat mengawal pengiriman logistik di TPS Kecamatan Ngrayun. 16 personil polsek setempat dan 29 dari polres harus melewati medan ekstrem yang berlumpur dan berbatu. Di tingkah guyuran hujan deras, mereka tabah memanggul kotak suara. ‘’Dalam kondisi apapun, kami harus siap melewati setiap rintangan. Memastikan, logistik pemilu terdistribusi sampai lokasi,’’ tegas Kapolsek Ngrayun AKP Sutriatno.

Aksi manual itu harus dilakukan lantaran kendaraan pengangkut logistik tidak dapat menjangkau lokasi. Bahkan, di beberapa desa seperti di Gedangan, Wonodadi, Sendang, Selur, Baosan Kidul, roda kendaraan distribusi selip. Setelah terperosok di jalanan berlumpur. Petugas sempat menarik kendaraan agar keluar dari kubangan lumpur. Hal itu hampir dialami seluruh petugas saat mengirimkan ke 11 desa dan 197 TPS di Ngrayun. ‘’Memang geografis berupa pegunungan. Sejak awal pun, kami sudah mengantisipasinya dengan persiapan fisik dan mental,’’ ucapnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here